Tampilkan postingan dengan label psikologi klinis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi klinis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2013

ABH...oh... ABH


Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa sih ABH ? ABH adalah singkatan dari Anak Berhadapan dengan Hukum. Memang dari awal fokusku adalah anak-anak lalu semakin fokus lagi ke anak-anak dalam bencana serta anak-anak berhadapan dengan hukum. Lalu apa yang harus dilakukan ? Kamu tidak bisa tiba-tiba berada dalam lingkungan itu tanpa ilmu, tanpa bekal apapun. Aku masih ingat pertama kali jatuh cinta pada topik ABH.

Aku mengikuti kuliah asessmen anak ketika itu dan mengajar adalah seorang dosen yang biasa dipanggil sebagai saksi ahli dalam persidangan yang melibatkan anak atau kasus anak. Kesabaran, kegigihan dan usaha-usaha beliau mendapatkan informasi tanpa "mengancam" kesejahteraan anak. Bukan itu saja, tak jarang beliau sendiri malah medapat ancaman karena keberanian beliau dalam mengemukakan pendapat.

Banyak cerita yang beliau sampaikan tentang kasus anak, proses penyidikan dan persidangan yang belum ramah anak. Ketakutan terbesar adalah trauma baru yang didapatkan anak selama proses hukum terjadi. Ya.. sejak itu... Sejak itu keinginan besar untuk membersamai ABH muncul.

Kesempatan untuk masuk kelingkaran itu datang ketika seorang
teman dengan minat yang sama denganku mengajak membuat kelompok kerja ABH. Kelompok ini berusaha membangun konstrak teoritis, modul pendekatan pada kasus anak (modul wawancara, profile kasus, saksi ahli) dan bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi yang didapat atau dikumpulkan. Kemudia kami berkumpul di dalam naungan kerja divisi satu CPMH ( disaster ada di divisi lima, kyyaaa... mendua. Nanti ajak saya main2 bareng ya divisi lima). Tidak mudah memang...

Apalagi kami berdua punya jadwal kuliah yang padat di magister profesi, jalan korja ini pun tersendat-sendat. Kami sudah berlima sekarang, seperti yang dianjurkan sebelumnya oleh pimpinan CPMH. Sebentar lagi rekruiment untuk tim besar dibuka dan proyek pertama menanti. Ada tawaran mencoba study visit ke sebuah negara yang terlalu sayang kalau tidak diperjuangkan. Ah.. pikiran mulai berkecamuk, tulisan ini disudahi saja.. Korja ABH jaya...

Minggu, 03 Februari 2013

Intervensi

Sudah masuk blog intervensi, blog yang sudah lama ditunggu karena penuh misteri. Blog ini berisi terapi-terapi yang dapat membantu orang-orang dengan gangguan psikologi maupun masalah problem solving sehari-hari.  Kegiatan makhluk-makhluk lucu di kelas pun berubah, dari mengerjakan laporan2 tes menjadi membuat dinamika psikologis keluhan, integrasi data lalu membuat rancangan intervensi. kemudian ketika hari H datang running terapi oun dilakukan dengan teman sendiri...

Penuh pengalaman dan petualangan, kami sendiri punya masalah-masalah yang belum terselesaikan dan ini yang kami usahakan (dengan babak belur) ketika running terapi. Sehingga ketika ketemu klien nanti kami tidak terkurung dalam masalah yang kami punya hingga mempengaruhi kinerja kami bersama klien.

masing-masing mempunyai cerita sendiri
betapa terukurnya bt dan cbt
dalamnya dinamika psikologis psikodinamik
berdamai dengan luka dengan humanistik
dan kelas seni serta pencarian esensi yang berlinang air mata di transpersonal.

Setiap pendekatan memiliki kekuatan masing-masing dan memberi pelajaran yang berbeda.

Masuk pada bagian kedua

Permainan otak dan kelihaian mengorganisir bersama intervensi komunitas
mengerti dunia anak lebih dalam (spesial thanks to azhar, ama, azam, mbak che and mira) dlam intervensi anak.
melihat sudut pandang remaja dalam intervensi remaja
lebih dekat dengan para pelaku kehidupan dalam intervensi lansia
berlanjut dengan bermain peran dalam intervensi keluarga dan kelompok..

tantanganya bagaimana kamu mengunakan 5 pendekatan dalam intervensi bagian dua..

kelihatan menyenangkan ?
maaf, kalau iya..
karena saya lupa untuk menulis sakitnya ketika mengakui kegagalan, lelah fisik dan mental, tidak merasa ada cukup waktu untuk segala hal, konflik dan hal-hal lainnya..

Namun ada hal yang selalu kuingat.
Terkadang kamu harus menambahkan kecap yang tidak kamu sukai ke makanan yov, agar enaknya pedas itu kamu rasakan. Begitu juga hidup terkadang kamu harus merasakan tidak enak, tidak nyaman sehingga kamu lebih menghargai kesuksesan.

Senin, 17 Desember 2012

Teman Malam itu Bernama Psikodiagnotika

Apa yang membuat orang-orang merasa bahwa kami yang berada dalam lingkaran profesi psikologi sebagai orang yang bisa membaca orang lain ?. Jawabannya adalah psikodiagnostika  yaitu alat-alat yang membantu menegakkan diagnosa. Jadi bukan seperti peramal yang "abracadabra, tolong dibantu yak... jadi apa prok..prok".. "tada". Selamat anda adalah orang yang seperti ini.. seperti itu... bla..bla..bla and bla.
Dari september kemarin kami (makhluk-makhluk lucu di magister profesi bagian klinis angkatan 9) masuk yang namanya blog PSD/ Psikodiagnostika. Blog yang "mematikan" karena pratikum, skoring, interpretasi dan laporan tentu saja. Awal-awalnya masih bisa mengatur waktu namun ketika jadwal-jadwal ini bertabrakan dengan tugas magister maka sleepless night menjadi pilihan. Untukku 7 jam tidur dalam 4 hari dan kumatnya vertigo berkepanjangan di akhir minggu padahal laporan menumpuk  untuk esok harinya.
Laporan bukan suatu hal yang "mematikan" namun bagaimana mempertanggungjawabkan laporan itu, bagaimana berhadapan dengan orang yang di tes, bagaimana dengan orangtua dari anak yang kita tes. Bagaimana orangtua merespon dan tentu saja masa depan anak tersebut atas apa yang kita laporkan.. Kyaa... Allah.. bantu kami menjadi orang yang berguna untuk orang lain.

trus tujuan nulis ini apa ?... pengingat saya  saja kok, bahwa saya pernah mengalami masa-masa sulit ini, kegalauan ini hingga tidak semena mena ketika profesi nanti...


Rabu, 10 Oktober 2012

Open mind, Open heart and Open Hand

Saya baru menyadari bahwa saya bukan tipe orang yang bisa dengan mudah menceritakan masalah kepada orang lain. Setelah diingat pun, dengan para teman dekat saya lebih sering mengungkap masalah tanpa emosi. Menulis diary untuk curhat memang saya lakukan akan tetapi dalam bentuk syair atau puisi sehingga ketika hal itu saya baca lagi, kebanyakan saya mengingat makna tapi tidak bisa mengingat kejadian.

Mengapa ini menjadi penting ?
ada slogan yang sering dipakai teman sekelas saya bahkan sempat menjadi yel-yel kami ketika outbong Magister Profesi. Open mind berarti membuka pikiran untuk semua ilmu dan pengalaman yang akan didapat dari teman-teman baru ataupun dari dunia perkuliahan. Open heart membuka hati untuk mau berbagi rasa, masalah, emosi dan open hand yaitu saling membantu diantara kami.

Open heart ini menjadi misteri terbesar (gaya..-.-). Saya tidak bisa membiarkan orang lain mengetahui apa yang ada di hati saya. Apakah ini karena saya tidak punya trust ? tapi saya merasa percaya bahkan nyaman dengan teman-teman saya. Seringkali ketika masa triad (jadi semacam uji coba terapi dengan berbagai pendekatan dengan teman sekelas) saya mengalami psychological blocking untuk menceritakan masalah sehingga ini juga mempengaruhi teman yang sedang mencoba menjadi terapis saya (bahkan saya teman). Bahkan di suatu terapi saya menangis bukan karena masalah yang saya alami akan tetapi ketidakmampuan untuk mengemungkakan masalah itu.

Ada yang bilang karena selama ini saya menyimpan masalah terlalu dalam, masalahnya menjadi banyak kemudian sulit untuk menemukan awal cerita permasalahan.

Ada yang bilang mungkin karena belum nyaman.

Ada yang bilang ini... Ada yang bilang itu...

hem..

Yang pasti Open heart ini harus sesegera mungkin saya lakukan. Seorang kakak kelas bahkan sudah menceritakan pengalamannya sendiri secara jelas dan memperlihatkan kegunaan dari proses yang satu ini... Semoga cita-cita menjadi muslimah psikolog yang genuine itu tercapai.

Tidak ada perjuangan yang sia-sia toh... :)
May Allah bless us...Allahghoyatuna !!!!

Kamis, 04 Oktober 2012

hari-hari magister profesi 1

Selamat datang rutinitas baru...
Alhamdulillah beberapa bulan yg lalu diterima di Magister Profesi Psikologi UGM. Belajar menjadi pilihan guna menjadi individu yang lebih baik. Banyak tawaran kerja yang datang tapi diri.masih meras kurang ilmu. Akhirnya setelah bimbang antara magister sains atau magister profesi maka saya memilih ikut profesi.

Pra profesi berjalan, hal yang pertama saya sadari adalah saya mengikuti dua perkuliahan sekaligus. Magister yang akan mengantarkan saya pada gelar M.Psi dan kuliah profesi yang akan menyematkan kata Psikolog dibelakang nama saya nantinya.  Itu hanya dalam dua tahun saja, mulailah terbayang bagaimana kehidupan kuliah ditambah sharing kakak angkatan... ya Allah semoga dikuatkan sampai akhir.

Tidak ada lagi penampilan yang serampangan (saya enggak suka juga sih) tapi bagaimana dengan gamis lucu dan tentu saja tidak resmi yang saya punya ? karena lebih sering bekerja dengan anak-anak maka baju ini cocok tapi kalau kuliah ? hem....

Sepatu teplek karet dan sepatu kets saya pun berganti menjadi sepatu wanita berhak tiga senti (membuat tinggi saya menjadi 179 dan saya jd tampak lebih besar). Sangat memperhatikan penampilan wajah maupun bau badan. Banyak hal teknis lain yang sangat berbeda dengan S1 maupun ketika masa kerja dulu.

Masuk kelas dan seorang dosen berkata "saya tidak mengijinkan kalian menikah selama profesi". Eitss yang mikir ini terlalu radikal tahan dulu. Sang dosen hanya meminta kami konsen dan fokus penuh kepada profesi. Profesi psikolog yang kami pilih bukan profesi main-main, keahlian kami nanti bisa menjadi faktor yang membuat individu yang memiliki masalah menjadi lebih baik. Ibarat dokter keteledoran mempelajari obat bisa jd malpraktek, maka keteledoran kami belajar bisa bikin orang yg punya masalah berat jd tambah berat.

Ketika di kelas yang kupikirkan adalah 36 orang kepala, 36 potensi yang berbeda, 36 karakter yang tentu berbeda pula. Perlu adaptasi lagi, perlu saling mengenali lalu memahami kembali. Padahal dalam waktu singkat kami diminta untuk terbuka satu sama lain dan menjadi satu kapal dimana semua awaknya bekerjasama menuju tujuan akhir... Belum terlihat gejolak yang akan.menghantam perahu kami, maka menurut saya cukuplah cerita tentang hari magister profesi kali ini..

Minggu, 19 Desember 2010

Dialektika Perjalanan 2

Banyak situasi yang memberikan pelajaran tentang hal yang kini sedang kutekuni. Tidak hanya matang secara konsep namun juga mampu mempraktekkannya dalam kehidupan. Psikologi adalah ilmu yang ilmiah, itu benar. Namun dalam pengaaplikasiannya diperlukan manuver-manuver yang luar biasa. Kenapa ?, karena kita sedang berurusan dengan makhluk kompleks bernama manusia. Paham teoritis tak membuatmu mampu menguasai lapangan, bahkan mungkin gugup dengan keadaan yang dalam waktu singkat mampu berubah begitu saja. tanpa persiapan, maka kamu akan dikalahkan. Menjadi dinamis lebih diperlukan, perkuliahan hanya mengupas sedikit dari ruang lingkup psikologi itu sendiri. Bukankah kita meyakinkan diri bahwa "dimana ada manusia maka di situ psikologi dapat berkerja".

Sebuah pengalaman menarik kualami ketika harus menjaga sebuah barak waktu itu, keadaan yang berubah-ubah berdampak pada minimnya tenaga. Akhirnya, sebuah barak berpenghuni 500 orang diamanahi ke tanganku. Bahasa kerennya waktu itu "penanganan psikologis" Belum ada sebuah legalitas profesi yang mengijinkan penanganan karena pendidikanku belum memadai, tap tetap menjadi penanggungjawab keadaan psikologis penyintas, sendirian.Padahal tadinya hanya mengantikan. Ada beberapa tenaga medis waktu itu tapi yang ku tahu hanya seorang dokter, yang mengajakku berbicara, selainnya aku tidak mengetahui profesi mereka.

Singkatnya,
Sehabis istirahat siang, datanglah seorang ibu memeriksakan kondisi bayinya. Menurut sang Ibu, bayi 6.4 bulan itu tidak berhenti menangis, susah tidur,ketika tidur pun tidak nyenyak, tidak mau minum ASI maupun susu formula tambahannya serta sering berkeringat. Tidak BAB selama 2 hari.

Bayi itu akhirnya diperiksa oleh si dokter. Tidak tau apa diagnosanya,tdak terlalu memperhatikan lebih tepatnya, belum ada kecurigaan sama sekali. Aku melihat bayi itu diperiksa, menangis ketika dilepas ibunya, meronta ketika dipegang dokter. Pemeriksaan selesai, sang bayi pun diberikan ke ibunya beserta resep yang harus ditebus.

Selagi menunggu antrian obat, si ibu duduk disebelahku. Bayinya tidak berhenti menangis, berbagai posisi dicoba ibu tersebut menghentikan tangis, mulai dari memindahkan tangan tumpuan kepala bayinya, berdiri, menimang-nimang, mengayun-ayun. Giliran sang Ibu untuk mengambil obat, karena kelihatannya si Ibu kepayahan mendengar penjelasan dari sang farmasis disela tangis sang bayi, aku menawarkan diri untuk memegang si bayi. Tidak beberapa lama di gendonganku (posisi kepalanya di dekat dagu bersandar pada bahu, tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di bawah pantat) si bayi berhenti menangis, ketika ku duduk pun ia tidak menangis. Si ibu berkata " Si A (nama disamarkan) suka ama mbaknya".

Ketika dikembalikan kepada ibunya dan tanganku menyentuh lengan sang ibu, badan beliau panas. si bayi kembali menangis. Aku menawarkan diri lagi menenangkan si bayi. Bayi itu kugendong lagi, butuh waktulebih lama untuk membuatnya tenang kali ini, si ibu memberi botol susu dan aku memberikan kepada si bayi sambil duduk dan si ibu duduk disebelahku.

Setelah ngobrol ternyata si ibu demam hampir seminggu, susah tidur, tidak enak makan yang berarti bahwa si ibu telah lebih dulu sakit daripada si anak. Namun si Ibu tidak merasakan apa-apa, ketika kemarin berobat pun itu karena disuruh tetangganya. Si Ibu hanya berdua dengan si bayi di barak sedangkan suami sedang dalam perjalanan ke magelang (berkerja diluar kota, tapi aku tidak bertanya dimana). Perawatan dan tanggungjawab dipikul oleh si Ibu.
Berbagai kemungkinan-kemungkinan muncul dikepalaku tentang keadaan ini. Salah satunya ternyata benar (tidak usah disebutkan apa yang dialami sang ibu).Tapi tidak banyak yang bisa dilakukan, walau jadi penanggungjawab secara profesi aku bukan pihak yang berwenang.

Pusing...
Namun jawaban didapat dari si bayi yang akhirnya tidur di gendonganku. Kepalanya dibenamkan ke leherku. Perbedaan yang dapat dilihat antara sang ibu dan aku adalah frekuensi bernafas dan kuantitas keringat. Si bayi merasakan ketidaktenangan sang ibu dan akhirnya mengcopingnya, bagaimana bisa ?. tidak tahu teoritis pastinya seperti apa, aku pun masih mencari. Kemungkinan dari kebutuhan rasa aman yang menjadi kebutuhan sang bayi (dari psi sos erikson), dimana rasa aman ini didapat dari care giver berupa sentuhan dan kelekatan atau attachment. Rasa aman ini akan membuat bayi tetap tenang walau ada kondisi bahaya, berubah, suara keras maupun hal lain yang berubah disekelilingnya.

"ketika sang ibu menderita panik maka mungkin bagi bayinya untuk menderita pula" ini yang saya ingat dari pembicaraan dosen di kelas.
Ketika figure attachnya tidak tenang maka akan berdampak pada bayi, dimana bayi menjadi tidak tenang pula. Proses coping dari figure lekat, baik dari detak jantung, cepat dan lambatnya nafas, sampai pada aktivitas kehidupan seperti pemberian ASI (karena ibunya tidak makan dengan maksimal maka produksi ASI juga tidak maksimal) dianggap sebagai "media transfer" kepanikan.

Ini hipotesis sementara (masih dicari keterangan lain untuk pembuktiannya). Ini mejelaskan kenapa si bayi tenang dan bisa tidur ketika bersamaku dan tidak dengan ibunya. Akhirnya si ibu, ku minta untuk mengatur nafasnya (nafas perut, agar kontrol akan nafas maksimal),, beberapa gerakan relaksasi sederhana (sempat diajarkan ketika pembekalan di fakultas dan barak bersama dinkes)...Lumayan lama bersama sang Ibu. Sampai si Ibu lebih merasa lebih baik, saya mengantarkan si ibu dan bayi ke tempat mereka. Si bayi tetap tertidur pulas bahkan sampai saya mengunjunginya sore hari ketika akan pulang dari barak pengungsian.


Pengalaman berkesan
belajar langsung di tempat, belajar merangkai-rangkai ilmu yang didapat dalam waktu singkat. Ketika berkesempatan untuk ke barak itu lagi, si ibu sudah tidak ada.Masih banyak hal yang ingin diceritakan (daripada numpuk di journal harian), tapi nantilah.

Kamis, 28 Oktober 2010

Sebuah pendekatan disclosure : Anak rantau Minangkabau Mengenali diri dan budaya dari tanah rantau III

Apa yang berbeda ? (Remaja Minangkabau Vs Remaja )


Sebenarnya kematangan emosi yang dicapai oleh remaja Minangkabau ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Peer group yang kuat, kepercayaan dari orangtua dan kemapanan pribadi menjadi kunci dari kebehasilan anak rantau mengaktualisasikan dirinya.


Merantau hanya sebagai proses mempercepat tercapainya kemandirian. Yang mana juga memiliki efek samping berupa mudahnya terjatuh atau gagal dan bila tidak sanggup bangkit maka akan terjerumus lebih dalam pada perilaku menyimpang, karena tetap saja kontrolling terkuat ada pada orangtua.

Kemapanan pribadi diperoleh dari kebiasan orang Minang untuk menyampaikan pendapat kepada siapa saja sehingga ia pun mendapatkan pandangan dari siapapun. Orangtua saat ini telah melepas anaknya mandiri walau masih di daerah asal setelah tamat sekolah dasar. Anak diperbolehkan memilih sekolah sendiri yang dia inginkan, kegiatan ekstrakulikuler setelah didiskusikan dengan orangtua. Kegiatan penyeimbang berupa pendidikan agama tetap dilanjutkan hingga sekolah agama sore itu selesai.

Kepercayaan orangtua memberikan arti penting setelahnya. Melepas merantau berarti meyediakan ruang gerak yang sangat luas pada anak hal ini berbanding lurus dengan besarnya kepercayaan yang diberikan orangtua. Saat merantau anak akan dipandang sebagai seorang individu bukan lagi sebagai seorang ”anak”, dimana individu ini diyakini memiliki kekuatan untuk bertahan. Namun orangtua akan tetap bersedia menerima keluhan atas rasa kasih sayang kepada anak. Kepercayaan ini akan sangat membantu pengambilan keputusan pada remaja dan penyesuaian dirinya. Menurut penelitian pengaruhnya mencapai angka 51,1 persen (Yuniarti,2009)

Perasaan senasib dan sepenangungan yang dirasakan peer group. Bisa didapatkan tanpa perlu merantau. Kemampuan individu yang terasai dibidang sosial, mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan akan membantu membentuk peer group yang solid. Tidak ada perbedaan mendasar antara remaja minangkabau dan remaja lainnya dalam hal kematangan. Perbedaan hanya terletak pada cepat atau lambatnya tercapinya kematangan tersebut dimana merantau mempercepat proses kematangan itu terjadi karena dinamika psikologis selama merantau. Diskusi lebih lanjut akan lebih baik ditekankan kepada gaya spesifik orangtua minangkabau dalam mempersiapkan atau mendidik anak-anak mereka karena dari bahan yang dikumpulkan kemungkinan besar keberhasilan remaja Minangkabau mampu meregulasi emosi dan matang lebih cepat adalah karena individu-individunya. Sehingga pendidikan yang dilakukan di negeri asal atau lebih spesifik pada orangtua mampu mengungkap hal tersebut.




















DAFTAR PUSTAKA

Agies.N.A. 2010. Remaja dan Masyarakat. http://agies.ngeblogs.com/2010/03/21/remaja-dan-masyarakat/. Diunduh pada tanggal 1 Mei 2010

Astuty.E.M. 2009. Hubungan Antara Kematangan Emosi dan Jenis Kelmain dengan Agresivitas pada Komunitas SLANKers. Skripsi. UMS

Diradjo.I. S.2009. Tambo : Alam Minangkabau. Bukittinggi : Kristal Multimedia.

Episentrum. 2009. Remaja. http:// Remaja _ Episentrum, Layanan Psikologi.htm.

Herbert,M. 2001. Clinical Child and Adolescents Psychology. UK : Padstraw

Hughes,L. 2001. Paving Pathway. USA : Wadsworth

Hurlock, E.B. 1993. Psikologi Perkembangan.Jakarta :Erlangga

Ilyas. A. 1999. Nan Empat. Palembang : Osaka

Kampiun. 2008. Pengertian Kematangan Emosi. http:// remaja/Pengertian%20kematangan%20emosi%20%C2%AB%20Kampiun%20Psikologi.htm.

Kato.T.2005. Adat Minangkabau dan Merantau. Jakarta : Balai Pustaka

Muarif. 2009. Rahasia Sukses Orang Minang di Perantauan. Yogyakarta: Pinus

Muthoin. 2010.Pendidikan Remaja. http://muthoin22.student.umm.ac.id/2010/02/05/pendidikan-remaja/. Diunduh pada tanggal 1 Mei 2010.

Noviasari. D. 2002.Perbedaan Kematangan Emosional Remaja diinjau dari Status Urutan Kelahiran dalm Keluarga. http:// gdl.php.htm

Santrock. 2002. Life-span Development.Jakarta Erlangga

Sham.F,M.2005. Tekanan Emosi Remaja Islam. Ukmislamya no 271.1.

Yuniarti, Y.N.2009. Hubungan Persepsi Efektifitas Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kematangan Penyesuaian Diri pada Remaja Siswa SMAN 1 Polanharjo.Skripsi.

Sebuah pendekatan disclosure : Anak rantau Minangkabau Mengenali diri dan budaya dari tanah rantau II

Mengapa Merantau ? (sebuah cerita sejarah dan penyimpangannya di masa kini).


Minangkabau merupakan sebuah masyarakat matrilineal terbesar di dunia. Matrilinea berarti bahwa kekerabatan dan garis keturunan berasal dari garis ibu. Pada zaman dahulu merantau merupakan suatu cara bagi anak laki-laki untuk mencari nama. Dari akil baliq laki-laki tidak lagi mendapatkan tempat dirumah. Rumah hanya tempat untuk makan dan berganti pakaian Mereka tinggal dan meghabiskan waktu di surau-surau untuk belajar. Menurut Gamawan Fauzi (2008) dalam Muarif sebelum bangsa Indonesia mengenal pendidikan ala Barat, suku Minang sudah mengembangkan pendidikan agama di surau-surau. Baru setelah Belanda memperkenalkan pendidikan ala Barat, orang-orang Minang dapat menerimanya dan memanfaatkan dengan baik. Pendidikan ala surau masih dipertahankan melalui taman-taman Al-Quran pada sore hari, sehingga adalah sautu keanehan ketika seorang anak tidak menjalani proses belajar di TPA. Pandangan lain meyatakan bahwa ini merupakan cara remaja laki-laki untuk lari dari kekangan adat.


Merantau kemudian dijadikan sarana oleh para remaja laki-laki ini untuk menimba ilmu dan memahami lebih dalam mengenai persoalan kehidupan. Contoh saja Agus Salim, Muhammad Hatta, Muhammad Natsir yang merupakan anak Minangkabau yang merantau dan berhasil membantu tegaknya negara Indonesia. Belum lagi beberapa yang berhasil di Luar Negeri seperti Khaitib Ahmad Al-Minangkabauwy, seorang khatib asing pertama di Masjidil Haram yang juga merupakan guru Haji Agus Salim dan Natsir ketika di mesir. Yusof Ishak yang merupakan presiden pertama Singapura. Niat utama adalah belajar dan mendalami persaolan hidup yang membuat mereka kaya dalam pengetahuan dan pengalaman. Sehingga mereka bisa memecahkan masalah rumit dan akhirnya menjadi orang yang dipandang karena ilmunya.


Dahulu daerah rantau hanya dibatasi dengan daerah disekitar luhak yang tidak masuk kepada luhak secara langsung. Terdiri dari rantau tuo, rantau pasisia dan rantau darek. Pergeseran dan perpindahan yang tinggi masyarakat minangkabau ini mengakibatkan batasan yang tidak jelas mengenai daerah rantau Minangkabau sehingga akhirnya daerah rantau adalah daerah yang berada di luar daerah Sumatera Barat sebagai pusat dari suku Minangkabau.


Pewarisan budaya tentang merantau ini biasanya dilakukan oleh orang tua yang bercerita tentang kesuksesan sanak saudara mereka yang merantau, dari nyanyian masa kecil hingga pelajaran sekolah ”Budaya Alam Minangkabau”. Juga tentang tokoh-tokoh Minangkabau yang sukses di negeri orang di sekolah-sekolah. Hal ini menumbuhkan kepercayaan diri bagi remaja Minangkabau untuk ikut pergi merantau. Para orangtua biasanya menyipakan anak-anaknya dengan dana yang cukup serta bekal kearifan lokal. Suatu hal yang wajar bila seorang anak dirantau dititipkan oleh orantuanya ke seorang induk samang yang akan menjaga anaknya selama dirantau Anak ketika sampai di rantau diminta untuk mencari induk samang kalau orangtua tidak mempunyai kerabat di daerah tujuan. Keberadaan induk samang ini menjadi ajang silaturahim dan kontrol pergaulan. Induk samang biasanya orang yang dekat dengan orangtua atau orang yang dikenalkan oleh anak kepada orangtuanya sebagai keluarga angkatnya di daerah rantau. Dituliskan dalam pantun adat mancari induak jo suku, jauah nan ditunjuakan, dakek nan dikakokkan, mancakam manumpu didalam nagari. Remaja ini akan diberikan wejangan mengenai kehidupan, kejujuran, loyalitas dan pentingnya menjaga diri serta agama di kehidupan.

Pada saat ini merantau tidak hanya dilakukan oleh para remaja laki-laki. Tapi juga perempuan. Hal ini secara adat menganggu dan membuat permasalahan sosial di dalam lingkungan adat. Karena tidak adanya generasi perempuan yang menjadi pemegang adat dan penerus keturunan di tempat. Niatnya pun sudah beralih dari mencari ilmu menjadi mencari kejayaan atau kekayaan saja. Pragmatis. Tidak ada keinginan mendalam untuk menuntut ilmu namun lebih kepada mencari kekayaan. Hal ini akhirnya berdampak juga kepada daerah asal. Bila perantau zaman dahulu akan kembali ke daerah asal setelah mencapai kejayaannya, maka saat ini jarang orang rantau yang kembali ke rumah. Apalagi bila mereka menikah dengan orang luar Minang atau keluarga yang sudah tidak ada di daerah asal. Masalah ini menjadi perbincangan yang hangat bagi pemegang adat Nagari karena makin berkurangnya pemegang adat yang ada di daerah asal hingga ketakutan akan hilangnya nilai luhur adat istiadat menghantui pemuka adat karena aktifitas merantau ini.

Dalam Muarif (2009) nilai-nilai yang terkandung didalam budaya merantau ini adalah kebebasan, pengorbanan, harapan, kebersahajaan, kekeluargaan, kerjasama, dapat dipercaya, ketekunan dan kebebasan, kebijaksanaan,adaptasi, cinta budaya, cinta ilmu, cinta agama, belajar dari pengalaman, profesinal dan jaringan. Yang terangkum dalam kesempatan merantau, ajaran orangtua dan hasil belajar remaja rantau.

Apa kabar remaja?

Suatu kekuatiran yang dialami oleh masyarakat Indonesia adalah tentang generasi mudanya. Banyak berita yang mengabarkan betapa memprihatinkannya generasi muda Indonesia pada saaat ini. Tawuran, sex bebas, Narkoba dan kehidupan hedonisme kerap disandingkan dengan para remaja. Kontrol sosial tidak lagi mempan untuk menahan pesatnya kejadian tersebut. Perilaku ini disinyalir sebagai gagalnya remaja dalam menyesuaikan diri dan proses belajar sehingga muncul tindakan maladptif atau menyimpang.

Remaja berprestasi pun tetap ada namun masyarakat yang mengalami magnification atau membesar-besarkan masalah negatif dan minimization atau meminimalisir hal yang positif membuat segelintir siswa-siswa berprestasi ini ditelan arus media tentang Juvenile Deliquency. Seorang remaja Indonesia menjadi Profesor termuda fisika diluar negeri sana terkalahkan oleh berita artis remaja yang hamil diluar nikah.

Masa remaja menurut Stanley Hall dalam Hurlock (1993) merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress (Storm and Stress). Pendapat serupa pun diungkapkan oleh Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusiona/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988).

Mereka berusaha mencari jati diri mereka dengan jalannya sendiri. Dan biasanya mereka melakukannya dengan melakukan konformitas terhadap peer group atau kelompok teman sebaya. Beberapa wujud pentingnya peer group pada remaja dinyatakan oleh Kelly & Hansen, dalam Dacey & Kenny (1977)
(a) mengendalikan impuls agresif;
(b) mendapatkan dukungan sosial dan dukungan emosional serta kemandirian;
(c) meningkatkan keterampilan sosial, kemampuan bernalar, dan mengekspresikan perasaan secara matang;
(d) mengembangkan sikap terhadap seksualitas dan perilaku sesuai peran jenis;
(e) memperkuat nilai-nilai dan keputusan moral;
(f) memperkuat harga diri (self esteem).

Sebuah konsep yang sedikit berbeda tentang remaja dan tugasnya dinyatakan oleh Havirgust (1993), diantaranya remaja di dalam masa mereka hendaknya mampu membuat hubungan baru dan mematangkan hubungan atara sesama jenis ataupun berbeda jenis. Mampu mengerti mengenai peranan sosial dan bagaimana melakukan peran mereka di dalam masyarakat. Memiliki kemandirian emosi, ekonomi dan kemandirian dalam memilih.

Dimana remaja harusnya telah mampu mengembangkan diri mereka sehingga mampu mencapai kematangan dalam bersosial (baik membentuk hubungan maupun menyadari peranan sosial), memiliki kemampuan untuk mengendalikan dan meregulasi emosi, pengaturan dan mencari uang untuk kebutuhan sendiri serta mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan dirinya dengan tidak merugikan orang lain maupun dirinya sendiri


Banyak perubahan terjadi di masa ini baik secara fisik (perubahan cepat di ciri fisik maskulin maupun feminism serta kematangan seksual), sosial, kognitif dan emosi. Perubahan terjadi sangat cepat dan menuju kematangan. Perubahan yang cepat disegala aspek ini turut membuat remaja bingung akan keberadaannya. Dimana mereka biasa untuk dibimbing di segala aspek oleh orangtua selama masa kanak-kanaknya. Maka saat remaja mereka mulai untuk pertama kalinya melakukan dan mengaturnya sendiri. Pada fenomena remaja minangkabau hal yang paling menarik untuk dikaji adalah kematangan mereka secara emosional dan financial (sebagai salah satu kebutuhan untuk aktualisasi dan tugas perkembangan remaja).


Kematangan emosional merupakan kondisi dalam mencapai tingkat kedewasaan, khususnya bila dipandang dari sudut perkembangan emosional individu. Seseorang yang telah matang emosinya memiliki kekayaan dan keanekaragaman ekspresi emosi, ketepatan emosi dan kontrol emosi. Hal ini berarti respon-respon emosional seseorang disesuaikan dengan situasi stimulus, namun ekspresi tetap memperhatikan kesopanan sosial (Stanford, 1965 dalam anonim 2010). Beberapa indikasi yang bisa dipakai untuk menyatakan seorang remaja telah mencapai kematangan emosi yaitu
(a) Tidak bersikap kekanak-kanakan
(b) Bersikap Rasional
(c) Bersikap Objektif
(d) Dapat menerima Kritikan
(e) Bertanggungjawab terhadap tindakan yang dilakukan
(f) Mampu menghadapi masalah dan tantangan yang dihadapi (Nuryoto,1992)

Kematangan Finansial diukur dengan siap atau tidaknya remaja untuk tidak lagi mendapatkan dana dari orangtua. Paling tidak ada usaha dari remaja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Remaja Minangkabau dalam Perantauan

Remaja Minangkabau yang berada di perantauan menyadari bahwa orang di daerah asal menaruh kepercayaan dan harapan besar pada diri mereka. Hal ini berupa penjagaan nama baik keluarga hingga pada kabar kesuksesan yang akan menjadi prestise tersendiri untuk keluarga di daerah asal. Semua hal ini menjadi tekanan yang tidak mudah bagi seorang remaja yang baru belajar untuk menguasai dirinya sendiri. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru, ia juga harus jauh dari orangtua dan teman masa kecilnya. Disinilah para remaja Minangkabau belajar mengenai kebebasan, adaptasi serta pengorbanan. Proses terpaksa dimana ia harus hidup jauh atas kemauannya sendiri menunjukkan jalan akan kebersahajaan ia harus mampu mengatur dirinya sendiri, hidup dengan memikirkan harus seimbang antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat seperti yang dipesankan oleh orangtua mereka. Dari sini tumbuh jiwa untuk melakukan wirausaha atau bekerja pada remaja Minang. Melanjutkan kehidupan dan membuat rencana perjalanan yang lebih panjang. Seorang anggota Forum komunikasi dimana wawancara pendek dilakukan ternyata telah memiliki toko serba ada sendiri, beberapa bekerjasama membentuk perusahaan konveksi dan ada juga yang memulai bisnis kecil-kecilan berupa jualan pulsa maupun makanan kecil.

Orang Minangkabau atau urang awak ini pergi merantau atas kemauan sendiri atas dasar kekuatan budaya merantau yang mengakar. Merantau ini bisa diartikan sebagai proses percepatan dalam proses kematangan individu. Karena di dalam merantau remaja akan bertemu dengan masyarakat, ruang, tempat dan adat yang sama sekali baru. Mereka mencaba berinteraksi bukan dengan mengamati orangtua mereka berperilaku namun dengan pengunaan trial-error yanag merupakan proses pengabungan nilai-nilai yang mereka pelajari di kampung halaman dan diganbungkan dengan nilai di tempat yang baru, ”dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang” (Dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung). Yang berarti mereka akan belajar cara menemukan diri mereka dengan cara mereka sendiri melalui proses belajar tanpa bantuang langsung dari orangtua. Tidak ada percekcokan mengenai pemberontakan seperti remaja yang lainnya. Karena fungsi orangtua adalah sebagai tempat untuk bercerita dan meminta nasehat. Semuanya dikembalikan pada remaja.

Bukan hal mudah untuk dilakukan oleh remaja yang baru beranjak dari dunia kanak-kanak. Namun hal ini dibuktikan oleh para remaja Minangkabau ini mampu bertahan dengan keadaan tersebut. Penanaman nilai untuk jujur, loyal, taat beragama yang dilakukan sejak dini turut membantu hal ini. Remaja Minangkabau lebih mudah menyatakan perasaan dan pikiran yang mereka rasakan walau terkadang dengan sindiran khas. Proses asertif yang telah diajarkan secara tidak langsung melalui adat ini mampu membantu mereka mengkomunikasikan ketidaktahuan, ketidaksukaan. Loyal terjhadp orang lain dan pertemanan membantu secara sosial sehingga mereka dapat diterima dengan mudah. Sedangkan cinta agama membuat remaja ini terkontrol dalam koridor yang benar.

Bila mereka mengalami kepenatan dalam beraktivitas ataupun keadaan di daerah rantau, kebiasaan hidup berkumpul mereka menjadi obat. Bila di Nagari asal biasanya mereka hidup berkumpul dengan orang sesuku maka di daerah rantau mereka berkumpul dengan orang sedaerah. Forum Komunikasi Mahasiswa Minang (Forkommi) UGM salah satu contohnya. Pengajian bulanan maupun duduk bersama dan berbicara banyak hal menjadi rutinitas di rumah kontrakan ini.

Adanya peer group yang senasib seperjuangan tentu saja membantu proses kematangan sosial dan emosi pada anak remaja minangkabau. Karena menurut Kelly & Hansen, dalam Dacey & Kenny (1977) pentingnya peer group adalah untuk
• mendapatkan dukungan sosial dan dukungan emosional serta kemandirian;
• meningkatkan keterampilan sosial, kemampuan bernalar, dan mengekspresikan perasaan secara matang;
• memperkuat nilai-nilai dan keputusan moral;
• memperkuat harga diri (self esteem)
sehingga bila control dari orangtua dan induk samang tidak berjalan dengan baik maka peer group ini akan menjadi kontrol dari perilaku remaja Minangkabau. Sehingga kematangan remaja bisa dicapai walau jauh dari orangtua. Significant person diganti oleh peer group.

Kegagalan untuk mencapai kematangan sosial pada anak remaja Minangkabau dan penyimpangan perilaku biasanya disebabkan oleh pribadinya sendiri. Beberapa kasus yang dialami oleh anak-anak forum komunikasi adalah kerentanan terhadap stress, beberapa merasa tidak mampu untuk bersaing secara akademis (kultur berprestasi di akademis dan organisasi sangat kuat di forum ini) sehingga menutup diri dan mengambil jalan untuk tidak ikut kegiatan forum lagi lalu terdengar kabar terlibat narkoba atau pergaulan bebas. Biasannya forum komunikasi ini akan mengaet kembali ”anggota nakal” ini, berusaha menyadarkannya, apabila tidak berhasil maka pengurus menghubungi orangtua sang anggota untuk meminta saran apa yang harus dilakukan. Forum ini juga membantu bila ada anggota yang mengalami musibah dan kemalangan.
Forum-forum seperti ini juga yang mengagas bantuan untuk Sumatera Barat ketika bencana terjadi 29 September 2009 yang lalu. Kemapanan pribadi dan solidnya peer group membantu remaja untuk bisa mengaktualisasikan dirinya hingga kematangan dalam hal ini emosi dapat dicapai walau berada jauh dari keluarga.

Sebuah pendekatan disclosure : Anak rantau Minangkabau Mengenali diri dan budaya dari tanah rantau I

Kampuang den jauah dimato
Gunuang sansai bakuliliang
Den takan ajo kawan-kawan lamo
Sangkek basualiang-suliang
(kampungku jauh di mata
Dikelilingi gunung
Ku teringat dengan teman lama
Saat masih bermian suling,
”kampuang den jauah di mato”)

Lagu ini merupakan lagu anak-anak yang pernah dinyanyikan oleh Chikita Meidy seorang artis cilik yang asal Bukittinggi pada tahun 90-an akhir. Lagu ini merupakan lagu daerah yang diajarkan kepada anak-anak sekolah dasar yang bercerita tentang orang yang merantau. Masih banyak lagi lagu-lagu daerah yang bercerita tentang merantau.
Bicara tentang merantau, sebuah Film berjudul ”Merantau” dirilis di Indonesia tahun 2009 kemarin. Film ini menarik perhatian masyarakat, alur ceritanya yang khas dan dibalut dengan kearifan lokal yaitu “silek harimau”. Merantau merupakan film laga yang bercerita tentang anak dari daerah yang merantau untuk mencari kejayaan. Di ibukota ternyata dia harus bertahan hidup bahkan harus terlibat dengan sebuah geng mafia. Dengan keberaniannya ia berusaha mencari jalan keluar dan membela kebenaran yang selama ini diajarkan oleh orangtuanya. Pelaku utama mempunyai keahlian dalam silek harimau yaitu sebuah aliran silek atau silat tua yang berasal dari daerahnya.

Selain menarik perhatian dari dalam negeri, film ini juga diperhitungkan di luar negeri. Sebuah penghargaan dari Amerika Serikat sebagai Film Asing Laga terbaik diberikan untuk film ini, yang berarti film ini diakui oleh International serta disejajarkan dengan film Jet Lee dan Jackie Chan yang telah memboyong penghargaan ini di tahun-tehun sebelumnya. Ada sebuah hal menarik yang kemudian dapat dikaji dari film ini. Kebudayaan merantau yang ada di Minang kabau, membiaskan sebuah kajian psikologis menarik tentang kemandirian pada remaja.

Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak. Transisi masa anak ke dewasa. Pada masa ini biasanya remaja mengalami kebingungan dalam melakukan sesuatu. Bimbang, ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Mengalami masalah dengan orangtua atau orang dewasa. Dimana mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri, namun tidak mempunyai kemampuan untuk mengelola emosi, kematangan secara materi dan motivasi yang meluap-luap. Sehingga terkadang remaja dianggap sebagai sebuah masa destruktif dan suka memberontak.

Untuk itu dibutuhkan sebuah bimbingan dari orangtua atau significant person. bila terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi bila tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik. Masa ini biasanya menjadi masa yang diwaspadai oleh orangtua. Pemberontakan dan perilaku coba-coba yang melekat pada remaja, membuat pengawasan diperketat ketika anak mereka memasuki masa ini. Sejatinya pada masa ini remaja masih memerlukan bantuan dari orangtua maupun significant person dalam hidupnya untuk berkembang dan menemukan jati diri mereka

Namun hal ini bertentangan dengan remaja di daerah Minangkabau. Pada masa ini kebanyakan dari para remaja dilepas oleh orangtua untuk pergi merantau. Merantau diartikan sebagai bepergian ke luar daerah tempat asal untuk mencari kekayaan, kemuliaan dan ilmu (Kato,2002). Ada juga yang menyatakan bahwa merantau pada awalnya merupakan proses menimba ilmu dan menambah pengetahuan tentang masalah persoalan hidup dan memahaminyam, kekayaan dan kejayaan hanyalah hadiah dari itu semua (Muarif, 2009). Orang tua Minangkabau merelakan kepergian anak mereka ke rantau agar menjadi ”orang”, dengan artian menjadi sukses dan dapat berguna dikampung halaman. Sesuai falsafah minang karatau madang dahulu, babuah babungo balun, karantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun”(karatau madang dahulu, berbuah belum berbunga, kerantaulah pemuda dahulu, dikampung belum berguna).
Remaja yang merantau ini dilepas ke kota lain oleh orangtua. Mereka biasanya bekerja dan tidak sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi di kota-kota besar. Kegiatan utama dari para perantau adalah berdagang, hal ini disebabkan karena jiwa bisnis orang minang kabau yang tinggi. Hal ini tentu saja berdampak pada remaja yang merantau dimana mereka harus berusaha dengan segala kemampuan yang mereka punya untuk bertahan di negeri orang lain. Bagi yang berasal dari golongan mampu, biasanya lebih mudah menjalani keseharian karena ada dana yang cukup dari orangtua untuk menjalani hidup. Namun bagi yang berasal dari keluarga yang biasa bahkan tidak mampu biasanya harus berusaha lebih keras untuk bertahan dan bekerja sambil kuliah dijadikan suatu pilihan.

Karena merantau berguan untuk mencari kejayaan dan pengakuan di daerah asal, jarang anak rantau yang melakukan satu aktifitas saja. Organisasi dan bekerja merupakan sautu hal yang biasa oleh mereka. Ketika organisasi dipilih biasanya remaja-remaja ini merupakan sosok loyal di organisasinya, ketika bekerja mereka merupakan sosok ulet yang pandai mencari kesempatan. Para remaja ini mempunyai ciri khas tersendiri. Kebanggaan akan jati diri membuat mereka mudah dikenali. Kepiawaian mengolah kata atau “basilek lidah”, kemampuan lobi dan bisnis yang baik dan kecenderungan untuk hidup berkumpul dengan orang sedaerah. Maka tidak jarang remaja yang awalnya berniat untuk kuliah di rantau mengalami kemunduran akademis. Namun jauh dari orangtua juga mengakibatkan hal lain berupa tidak terkontrolnya tingkah laku bagi remaja yang gagal beradaptasi dan mengaktualisasikan dirinya sehingga beberapa anak rantau ini yang akhirnya terjerumus ke pergaulan bebas, rokok bahkan narkoba. Jauhnya figur kontrol dan komunikasi yang tidak intens karena jauhnya jarak membuat resiko bagi remaja yang rentan atau tidak kuat terjerumus dalam di daerah rantaunya.