Hem, masih berbau kejadian-kejadian ketika magister profesi. Kali in tentang olahraga, kenapa olahraga ? agar bisa terus fit dan insyaallah sehat
tubuh sehat dan otak sehat
sudah rutin sekitar 10 bulan. Dari yang gak bisa setengah jalan di lebar kolam sampai sekarang bolak balik panjang kolam..
Anggotanya pun silih berganti, dari setelah keluar rumah sakit berenang ama mbak mytha, trus sendiri, lalu club berenang ceria mapronis sembilan, trus sendiri lagi, lalu ada beberapa yang mulai rutin hingga sekarang club ini beranggota tetap 4 orang..
Menyenangkan...
stress hilang
badan bugar
vertigo jarang datang
sesak nafas jadi jarang
hehehe
Jangan salah segala macam ketakutan akhirnya kami terapi di kolam ini (kecemasan di dalam air, fobia tenggelam sampai imajinasi ada buaya di dalam kolam)...Ada orang yang ketika baca ini akan nyeletuk "dasar anak psikologi"
Mari singgah, bersama secangkir teh panas dan biskuit susu, kutemani kau bicara tentang duniaku.Dunia nyata yang berbatas kaca,,
Tampilkan postingan dengan label magister klinis 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label magister klinis 9. Tampilkan semua postingan
Minggu, 03 Februari 2013
Intervensi
Sudah masuk blog intervensi, blog yang sudah lama ditunggu karena penuh misteri. Blog ini berisi terapi-terapi yang dapat membantu orang-orang dengan gangguan psikologi maupun masalah problem solving sehari-hari. Kegiatan makhluk-makhluk lucu di kelas pun berubah, dari mengerjakan laporan2 tes menjadi membuat dinamika psikologis keluhan, integrasi data lalu membuat rancangan intervensi. kemudian ketika hari H datang running terapi oun dilakukan dengan teman sendiri...
Penuh pengalaman dan petualangan, kami sendiri punya masalah-masalah yang belum terselesaikan dan ini yang kami usahakan (dengan babak belur) ketika running terapi. Sehingga ketika ketemu klien nanti kami tidak terkurung dalam masalah yang kami punya hingga mempengaruhi kinerja kami bersama klien.
masing-masing mempunyai cerita sendiri
betapa terukurnya bt dan cbt
dalamnya dinamika psikologis psikodinamik
berdamai dengan luka dengan humanistik
dan kelas seni serta pencarian esensi yang berlinang air mata di transpersonal.
Setiap pendekatan memiliki kekuatan masing-masing dan memberi pelajaran yang berbeda.
Masuk pada bagian kedua
Permainan otak dan kelihaian mengorganisir bersama intervensi komunitas
mengerti dunia anak lebih dalam (spesial thanks to azhar, ama, azam, mbak che and mira) dlam intervensi anak.
melihat sudut pandang remaja dalam intervensi remaja
lebih dekat dengan para pelaku kehidupan dalam intervensi lansia
berlanjut dengan bermain peran dalam intervensi keluarga dan kelompok..
tantanganya bagaimana kamu mengunakan 5 pendekatan dalam intervensi bagian dua..
kelihatan menyenangkan ?
maaf, kalau iya..
karena saya lupa untuk menulis sakitnya ketika mengakui kegagalan, lelah fisik dan mental, tidak merasa ada cukup waktu untuk segala hal, konflik dan hal-hal lainnya..
Namun ada hal yang selalu kuingat.
Terkadang kamu harus menambahkan kecap yang tidak kamu sukai ke makanan yov, agar enaknya pedas itu kamu rasakan. Begitu juga hidup terkadang kamu harus merasakan tidak enak, tidak nyaman sehingga kamu lebih menghargai kesuksesan.
Penuh pengalaman dan petualangan, kami sendiri punya masalah-masalah yang belum terselesaikan dan ini yang kami usahakan (dengan babak belur) ketika running terapi. Sehingga ketika ketemu klien nanti kami tidak terkurung dalam masalah yang kami punya hingga mempengaruhi kinerja kami bersama klien.
masing-masing mempunyai cerita sendiri
betapa terukurnya bt dan cbt
dalamnya dinamika psikologis psikodinamik
berdamai dengan luka dengan humanistik
dan kelas seni serta pencarian esensi yang berlinang air mata di transpersonal.
Setiap pendekatan memiliki kekuatan masing-masing dan memberi pelajaran yang berbeda.
Masuk pada bagian kedua
Permainan otak dan kelihaian mengorganisir bersama intervensi komunitas
mengerti dunia anak lebih dalam (spesial thanks to azhar, ama, azam, mbak che and mira) dlam intervensi anak.
melihat sudut pandang remaja dalam intervensi remaja
lebih dekat dengan para pelaku kehidupan dalam intervensi lansia
berlanjut dengan bermain peran dalam intervensi keluarga dan kelompok..
tantanganya bagaimana kamu mengunakan 5 pendekatan dalam intervensi bagian dua..
kelihatan menyenangkan ?
maaf, kalau iya..
karena saya lupa untuk menulis sakitnya ketika mengakui kegagalan, lelah fisik dan mental, tidak merasa ada cukup waktu untuk segala hal, konflik dan hal-hal lainnya..
Namun ada hal yang selalu kuingat.
Terkadang kamu harus menambahkan kecap yang tidak kamu sukai ke makanan yov, agar enaknya pedas itu kamu rasakan. Begitu juga hidup terkadang kamu harus merasakan tidak enak, tidak nyaman sehingga kamu lebih menghargai kesuksesan.
Label:
magister klinis 9,
psikologi klinis
Senin, 17 Desember 2012
Teman Malam itu Bernama Psikodiagnotika
Apa yang membuat orang-orang merasa bahwa kami yang berada dalam lingkaran profesi psikologi sebagai orang yang bisa membaca orang lain ?. Jawabannya adalah psikodiagnostika yaitu alat-alat yang membantu menegakkan diagnosa. Jadi bukan seperti peramal yang "abracadabra, tolong dibantu yak... jadi apa prok..prok".. "tada". Selamat anda adalah orang yang seperti ini.. seperti itu... bla..bla..bla and bla.
Dari september kemarin kami (makhluk-makhluk lucu di magister profesi bagian klinis angkatan 9) masuk yang namanya blog PSD/ Psikodiagnostika. Blog yang "mematikan" karena pratikum, skoring, interpretasi dan laporan tentu saja. Awal-awalnya masih bisa mengatur waktu namun ketika jadwal-jadwal ini bertabrakan dengan tugas magister maka sleepless night menjadi pilihan. Untukku 7 jam tidur dalam 4 hari dan kumatnya vertigo berkepanjangan di akhir minggu padahal laporan menumpuk untuk esok harinya.
Laporan bukan suatu hal yang "mematikan" namun bagaimana mempertanggungjawabkan laporan itu, bagaimana berhadapan dengan orang yang di tes, bagaimana dengan orangtua dari anak yang kita tes. Bagaimana orangtua merespon dan tentu saja masa depan anak tersebut atas apa yang kita laporkan.. Kyaa... Allah.. bantu kami menjadi orang yang berguna untuk orang lain.
trus tujuan nulis ini apa ?... pengingat saya saja kok, bahwa saya pernah mengalami masa-masa sulit ini, kegalauan ini hingga tidak semena mena ketika profesi nanti...
Dari september kemarin kami (makhluk-makhluk lucu di magister profesi bagian klinis angkatan 9) masuk yang namanya blog PSD/ Psikodiagnostika. Blog yang "mematikan" karena pratikum, skoring, interpretasi dan laporan tentu saja. Awal-awalnya masih bisa mengatur waktu namun ketika jadwal-jadwal ini bertabrakan dengan tugas magister maka sleepless night menjadi pilihan. Untukku 7 jam tidur dalam 4 hari dan kumatnya vertigo berkepanjangan di akhir minggu padahal laporan menumpuk untuk esok harinya.
Laporan bukan suatu hal yang "mematikan" namun bagaimana mempertanggungjawabkan laporan itu, bagaimana berhadapan dengan orang yang di tes, bagaimana dengan orangtua dari anak yang kita tes. Bagaimana orangtua merespon dan tentu saja masa depan anak tersebut atas apa yang kita laporkan.. Kyaa... Allah.. bantu kami menjadi orang yang berguna untuk orang lain.
trus tujuan nulis ini apa ?... pengingat saya saja kok, bahwa saya pernah mengalami masa-masa sulit ini, kegalauan ini hingga tidak semena mena ketika profesi nanti...
Label:
magister klinis 9,
psikologi klinis
Rabu, 10 Oktober 2012
Open mind, Open heart and Open Hand
Saya baru menyadari bahwa saya bukan tipe orang yang bisa dengan mudah menceritakan masalah kepada orang lain. Setelah diingat pun, dengan para teman dekat saya lebih sering mengungkap masalah tanpa emosi. Menulis diary untuk curhat memang saya lakukan akan tetapi dalam bentuk syair atau puisi sehingga ketika hal itu saya baca lagi, kebanyakan saya mengingat makna tapi tidak bisa mengingat kejadian.
Mengapa ini menjadi penting ?
ada slogan yang sering dipakai teman sekelas saya bahkan sempat menjadi yel-yel kami ketika outbong Magister Profesi. Open mind berarti membuka pikiran untuk semua ilmu dan pengalaman yang akan didapat dari teman-teman baru ataupun dari dunia perkuliahan. Open heart membuka hati untuk mau berbagi rasa, masalah, emosi dan open hand yaitu saling membantu diantara kami.
Open heart ini menjadi misteri terbesar (gaya..-.-). Saya tidak bisa membiarkan orang lain mengetahui apa yang ada di hati saya. Apakah ini karena saya tidak punya trust ? tapi saya merasa percaya bahkan nyaman dengan teman-teman saya. Seringkali ketika masa triad (jadi semacam uji coba terapi dengan berbagai pendekatan dengan teman sekelas) saya mengalami psychological blocking untuk menceritakan masalah sehingga ini juga mempengaruhi teman yang sedang mencoba menjadi terapis saya (bahkan saya teman). Bahkan di suatu terapi saya menangis bukan karena masalah yang saya alami akan tetapi ketidakmampuan untuk mengemungkakan masalah itu.
Ada yang bilang karena selama ini saya menyimpan masalah terlalu dalam, masalahnya menjadi banyak kemudian sulit untuk menemukan awal cerita permasalahan.
Ada yang bilang mungkin karena belum nyaman.
Ada yang bilang ini... Ada yang bilang itu...
hem..
Yang pasti Open heart ini harus sesegera mungkin saya lakukan. Seorang kakak kelas bahkan sudah menceritakan pengalamannya sendiri secara jelas dan memperlihatkan kegunaan dari proses yang satu ini... Semoga cita-cita menjadi muslimah psikolog yang genuine itu tercapai.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia toh... :)
May Allah bless us...Allahghoyatuna !!!!
Mengapa ini menjadi penting ?
ada slogan yang sering dipakai teman sekelas saya bahkan sempat menjadi yel-yel kami ketika outbong Magister Profesi. Open mind berarti membuka pikiran untuk semua ilmu dan pengalaman yang akan didapat dari teman-teman baru ataupun dari dunia perkuliahan. Open heart membuka hati untuk mau berbagi rasa, masalah, emosi dan open hand yaitu saling membantu diantara kami.
Open heart ini menjadi misteri terbesar (gaya..-.-). Saya tidak bisa membiarkan orang lain mengetahui apa yang ada di hati saya. Apakah ini karena saya tidak punya trust ? tapi saya merasa percaya bahkan nyaman dengan teman-teman saya. Seringkali ketika masa triad (jadi semacam uji coba terapi dengan berbagai pendekatan dengan teman sekelas) saya mengalami psychological blocking untuk menceritakan masalah sehingga ini juga mempengaruhi teman yang sedang mencoba menjadi terapis saya (bahkan saya teman). Bahkan di suatu terapi saya menangis bukan karena masalah yang saya alami akan tetapi ketidakmampuan untuk mengemungkakan masalah itu.
Ada yang bilang karena selama ini saya menyimpan masalah terlalu dalam, masalahnya menjadi banyak kemudian sulit untuk menemukan awal cerita permasalahan.
Ada yang bilang mungkin karena belum nyaman.
Ada yang bilang ini... Ada yang bilang itu...
hem..
Yang pasti Open heart ini harus sesegera mungkin saya lakukan. Seorang kakak kelas bahkan sudah menceritakan pengalamannya sendiri secara jelas dan memperlihatkan kegunaan dari proses yang satu ini... Semoga cita-cita menjadi muslimah psikolog yang genuine itu tercapai.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia toh... :)
May Allah bless us...Allahghoyatuna !!!!
Kamis, 04 Oktober 2012
hari-hari magister profesi 1
Selamat datang rutinitas baru...
Alhamdulillah beberapa bulan yg lalu diterima di Magister Profesi Psikologi UGM. Belajar menjadi pilihan guna menjadi individu yang lebih baik. Banyak tawaran kerja yang datang tapi diri.masih meras kurang ilmu. Akhirnya setelah bimbang antara magister sains atau magister profesi maka saya memilih ikut profesi.
Pra profesi berjalan, hal yang pertama saya sadari adalah saya mengikuti dua perkuliahan sekaligus. Magister yang akan mengantarkan saya pada gelar M.Psi dan kuliah profesi yang akan menyematkan kata Psikolog dibelakang nama saya nantinya. Itu hanya dalam dua tahun saja, mulailah terbayang bagaimana kehidupan kuliah ditambah sharing kakak angkatan... ya Allah semoga dikuatkan sampai akhir.
Tidak ada lagi penampilan yang serampangan (saya enggak suka juga sih) tapi bagaimana dengan gamis lucu dan tentu saja tidak resmi yang saya punya ? karena lebih sering bekerja dengan anak-anak maka baju ini cocok tapi kalau kuliah ? hem....
Sepatu teplek karet dan sepatu kets saya pun berganti menjadi sepatu wanita berhak tiga senti (membuat tinggi saya menjadi 179 dan saya jd tampak lebih besar). Sangat memperhatikan penampilan wajah maupun bau badan. Banyak hal teknis lain yang sangat berbeda dengan S1 maupun ketika masa kerja dulu.
Masuk kelas dan seorang dosen berkata "saya tidak mengijinkan kalian menikah selama profesi". Eitss yang mikir ini terlalu radikal tahan dulu. Sang dosen hanya meminta kami konsen dan fokus penuh kepada profesi. Profesi psikolog yang kami pilih bukan profesi main-main, keahlian kami nanti bisa menjadi faktor yang membuat individu yang memiliki masalah menjadi lebih baik. Ibarat dokter keteledoran mempelajari obat bisa jd malpraktek, maka keteledoran kami belajar bisa bikin orang yg punya masalah berat jd tambah berat.
Ketika di kelas yang kupikirkan adalah 36 orang kepala, 36 potensi yang berbeda, 36 karakter yang tentu berbeda pula. Perlu adaptasi lagi, perlu saling mengenali lalu memahami kembali. Padahal dalam waktu singkat kami diminta untuk terbuka satu sama lain dan menjadi satu kapal dimana semua awaknya bekerjasama menuju tujuan akhir... Belum terlihat gejolak yang akan.menghantam perahu kami, maka menurut saya cukuplah cerita tentang hari magister profesi kali ini..
Alhamdulillah beberapa bulan yg lalu diterima di Magister Profesi Psikologi UGM. Belajar menjadi pilihan guna menjadi individu yang lebih baik. Banyak tawaran kerja yang datang tapi diri.masih meras kurang ilmu. Akhirnya setelah bimbang antara magister sains atau magister profesi maka saya memilih ikut profesi.
Pra profesi berjalan, hal yang pertama saya sadari adalah saya mengikuti dua perkuliahan sekaligus. Magister yang akan mengantarkan saya pada gelar M.Psi dan kuliah profesi yang akan menyematkan kata Psikolog dibelakang nama saya nantinya. Itu hanya dalam dua tahun saja, mulailah terbayang bagaimana kehidupan kuliah ditambah sharing kakak angkatan... ya Allah semoga dikuatkan sampai akhir.
Tidak ada lagi penampilan yang serampangan (saya enggak suka juga sih) tapi bagaimana dengan gamis lucu dan tentu saja tidak resmi yang saya punya ? karena lebih sering bekerja dengan anak-anak maka baju ini cocok tapi kalau kuliah ? hem....
Sepatu teplek karet dan sepatu kets saya pun berganti menjadi sepatu wanita berhak tiga senti (membuat tinggi saya menjadi 179 dan saya jd tampak lebih besar). Sangat memperhatikan penampilan wajah maupun bau badan. Banyak hal teknis lain yang sangat berbeda dengan S1 maupun ketika masa kerja dulu.
Masuk kelas dan seorang dosen berkata "saya tidak mengijinkan kalian menikah selama profesi". Eitss yang mikir ini terlalu radikal tahan dulu. Sang dosen hanya meminta kami konsen dan fokus penuh kepada profesi. Profesi psikolog yang kami pilih bukan profesi main-main, keahlian kami nanti bisa menjadi faktor yang membuat individu yang memiliki masalah menjadi lebih baik. Ibarat dokter keteledoran mempelajari obat bisa jd malpraktek, maka keteledoran kami belajar bisa bikin orang yg punya masalah berat jd tambah berat.
Ketika di kelas yang kupikirkan adalah 36 orang kepala, 36 potensi yang berbeda, 36 karakter yang tentu berbeda pula. Perlu adaptasi lagi, perlu saling mengenali lalu memahami kembali. Padahal dalam waktu singkat kami diminta untuk terbuka satu sama lain dan menjadi satu kapal dimana semua awaknya bekerjasama menuju tujuan akhir... Belum terlihat gejolak yang akan.menghantam perahu kami, maka menurut saya cukuplah cerita tentang hari magister profesi kali ini..
Langganan:
Komentar (Atom)




