'hai pagi, apa kabarmu hari ini ?", tanyaku
senyum yang ia berikan sebagai jawaban
dan kalbuku yang senantiasa menyambutnya dengan harap mengerti
hari baru ini kupersembahkan untuk sang nanti dan Sang Abadi
Beranjak siang
'Hai Siang, lelahkah kau menanggung matahari berpijar?'
sang siang menunjukkan kegarangannya, pertanda ia masih kuat melakukan tugasnya
aku mengerti,
tenagaku kian lemah, tubuh manusiaku berkata istirahatkan aku. mata mulai memberatkan hati...
sore menjelang
"indah" pujiku...
dia memalingkan mukanya
'kenapa ?' gumamku
malam membingkai
'damai" ujarku
dan kesejukkannya menunjukkanku untuk pergi keperaduan.
tiba-tiba sang pagi, siang, sore dan malam datang
bertanya, meragukan...
"apa yang kau lakukan?"
aku diam
"tidakkah kau melakukan hal berguna untuk Sang Abadi selain menyatakan pujian, sanjungan pada ciptaanNya?"
aku menundukkan kepala
satu hari lewat, tiada sanjungan untukNya. hanya melihat hal yang tak nyata. aku merindukan duniaku yang baka.
Mari singgah, bersama secangkir teh panas dan biskuit susu, kutemani kau bicara tentang duniaku.Dunia nyata yang berbatas kaca,,
Sabtu, 22 Januari 2011
Selasa, 18 Januari 2011
Surat Cinta dari Sang Ayah
PUTRI BUNGSUKU
aku akan pulang ke rumah
tempat putri bungsuku diam menetap
aku akan pulang kerumah
dimana senyum dan tawanya telah ku kenang
dalam masa jauhnya mata dari sosoknya
sekali-kali main lah ke rumah
lihat putri bungsuku disana
carilah badan tinggi besarnya
lalu perhatikanlah ia
lihat senyumnya
dan kau pun akan merasa bahagia
lihat tawanya
serasa dunia sedang ikut gembira bersamanya
Lihat pandangan matanya
sebuah rahasia terbongkar setiap ia mengedipkan mata
dengarkan ia berkata
gulanamu akan terlupa
dengarkan nyanyiannya
sejenak mari lupakan masalah yang ada
kapan kau bisa datang ?
jangan bertanya kepada saya.
ia masih menutup hatinya, ia berkata
dan tidak ada ruang tunggu katanya.
aku akan pulang ke rumah
tempat putri bungsuku berada
entah ia yang kan ku tenggelamkan dalam pelukan hangat rindu
atau aku yang akan terhanyut dalam teduhnya mata dan senyum yang menghangatkan hati itu.
#yah,, setidaknya aku tahu, minat menulis dan "gombal"ku dari siapa#
aku akan pulang ke rumah
tempat putri bungsuku diam menetap
aku akan pulang kerumah
dimana senyum dan tawanya telah ku kenang
dalam masa jauhnya mata dari sosoknya
sekali-kali main lah ke rumah
lihat putri bungsuku disana
carilah badan tinggi besarnya
lalu perhatikanlah ia
lihat senyumnya
dan kau pun akan merasa bahagia
lihat tawanya
serasa dunia sedang ikut gembira bersamanya
Lihat pandangan matanya
sebuah rahasia terbongkar setiap ia mengedipkan mata
dengarkan ia berkata
gulanamu akan terlupa
dengarkan nyanyiannya
sejenak mari lupakan masalah yang ada
kapan kau bisa datang ?
jangan bertanya kepada saya.
ia masih menutup hatinya, ia berkata
dan tidak ada ruang tunggu katanya.
aku akan pulang ke rumah
tempat putri bungsuku berada
entah ia yang kan ku tenggelamkan dalam pelukan hangat rindu
atau aku yang akan terhanyut dalam teduhnya mata dan senyum yang menghangatkan hati itu.
#yah,, setidaknya aku tahu, minat menulis dan "gombal"ku dari siapa#
FOTO SEBUAH KELUARGA
Masih terlau pagi untuk menuliskan banyak hal hari itu. Setelah menginap di kontrakan NUANSA dan ima, aku mengantarkan intan pulang. Perjalanan biasa, setelah sebelumnya makan pagi dan mengantarkan sarapan ke NUANSA untuk ima dan sunu. Aku dan intan pun membahas hal yang selalu kami bahas berdua, akhir-akhir ini, apalagi kalau bukan skripsi. Ke_mandeg_an skripsiku dan ke_mandeg_an ujian padadaran intan, dengan bumbu-bumbu peristiwa harian.
Sesampainya di gapura bertuliskan SAGAN, ada hal yang menarik, seorang anak yang ssepertinya berusia 15 belasan tahun tengah di gendong oleh seorang ibu. ya.. digendong, dari sosoknya, sang anak memiliki kebutuhan khusus. Sang ibu mengendong anak dengan menggunakan kain panjang batik. Seperti sedang menunggu sesuatu. Dan selama itu sang anak didudukkan di tembok yang berada disisi jalan.
Dari Intan, aku mengetahui bahwa sang ibu melakukan hal tersebut setiap hari sekolah. Karena bis sekolahnya menjemput di pinggiran jalan, bukan ke rumah dari siswa. Maka keluarga kecil itu pun berjuang dengan cara mereka. Rumah mereka di daerah dalam samirono, masih terus dari ke dalam (dari cara pengucapan intan sepertinya tempatnya cukup jauh dari situ) dan mereka berjalan menuju gapura SAGAN. Pagi hari, sang ayah akan mengantarkan anak dengan mengunakan kursi roda (didorong dari rumah), lalu ayah akan pergi bekerja, ibu yang menyusul kemudian mengambil alih, menunggui anak sampai bis sekolahnya datang.
Terlihat sederhana, tapi begitu luar biasa. Ketahanan menghadapi dan mengasuh anak-anak normal anda membutuhkan tenaga yang luar biasa. Apalagi dengan orangtua yang harus bertahan, mengasuh, mendampingin anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus. Anak tadi di sosoknya yang seperti remaja abg belasan tahun, masih menggunakan seragam SD.
Begitu salut rasanya melihat orangtua yang mampu mengiring anak-anak mereka sampai keperguruan tinggi, sukses, kaya raya atau apapun yang menjadi faktor kebahagiaan dari dunia. Namun sepertinya hal itu begitu kecil rasanya dibandingkan kesabaran sang ibu mengendong anak ABGnya, yang harusnya dalam masa ini bergaul dengan teman-temannya, memberontak dalam gelora jiwa muda, tapi anaknya berbalut baju SD dan membutuhkan bantuan untuk melakukan apa saja.
Setelah mengantarkan Intan sampai ke kostnya, aku berniat menghampiri sang ibu. mengajak berbicara kalau tidak, mungkin hanya sekedar menyapa dan melemparkan senyum. Betapa kau kuat, wahai Ibu. Tapi ternyata dua sosok ibu dan anak itu sudah tidak ada. Allah belum mempertemukan kami ternyata.
Bukan ku menampikkan perjuangan para ibu dan bapak diluar sana. aku pun begitu bangga dengan papa dan mama serta segala perjuangan mereka. luar biasa, semua orangtua luar biasa. Hanya memperlihatkan sudut lain yang harus diancungi jempol ketika bicara pengasuhan anak oleh orangtua.
Dua orangtua dari anak itu mencerminkan ketelatenan dan kesabaran mereka dengan anak berkebutuhan khususnya. Dan bial ada orangtua diluar sana dengan anak normal mereka, mengeluh, lihatlah foto keluarga ini, agar lebih sadar mereka sedikit lebih beruntung ternyata.
#pengasuhan anak itu menyenangkan, dari pagi ketika anda membuka mata, dan menyadari diri anda sebagai hamba, hingga pejamnya sang mata untuk selamanya. dan landaskanlah semua itu karena cinta kepadaNya#
Sesampainya di gapura bertuliskan SAGAN, ada hal yang menarik, seorang anak yang ssepertinya berusia 15 belasan tahun tengah di gendong oleh seorang ibu. ya.. digendong, dari sosoknya, sang anak memiliki kebutuhan khusus. Sang ibu mengendong anak dengan menggunakan kain panjang batik. Seperti sedang menunggu sesuatu. Dan selama itu sang anak didudukkan di tembok yang berada disisi jalan.
Dari Intan, aku mengetahui bahwa sang ibu melakukan hal tersebut setiap hari sekolah. Karena bis sekolahnya menjemput di pinggiran jalan, bukan ke rumah dari siswa. Maka keluarga kecil itu pun berjuang dengan cara mereka. Rumah mereka di daerah dalam samirono, masih terus dari ke dalam (dari cara pengucapan intan sepertinya tempatnya cukup jauh dari situ) dan mereka berjalan menuju gapura SAGAN. Pagi hari, sang ayah akan mengantarkan anak dengan mengunakan kursi roda (didorong dari rumah), lalu ayah akan pergi bekerja, ibu yang menyusul kemudian mengambil alih, menunggui anak sampai bis sekolahnya datang.
Terlihat sederhana, tapi begitu luar biasa. Ketahanan menghadapi dan mengasuh anak-anak normal anda membutuhkan tenaga yang luar biasa. Apalagi dengan orangtua yang harus bertahan, mengasuh, mendampingin anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus. Anak tadi di sosoknya yang seperti remaja abg belasan tahun, masih menggunakan seragam SD.
Begitu salut rasanya melihat orangtua yang mampu mengiring anak-anak mereka sampai keperguruan tinggi, sukses, kaya raya atau apapun yang menjadi faktor kebahagiaan dari dunia. Namun sepertinya hal itu begitu kecil rasanya dibandingkan kesabaran sang ibu mengendong anak ABGnya, yang harusnya dalam masa ini bergaul dengan teman-temannya, memberontak dalam gelora jiwa muda, tapi anaknya berbalut baju SD dan membutuhkan bantuan untuk melakukan apa saja.
Setelah mengantarkan Intan sampai ke kostnya, aku berniat menghampiri sang ibu. mengajak berbicara kalau tidak, mungkin hanya sekedar menyapa dan melemparkan senyum. Betapa kau kuat, wahai Ibu. Tapi ternyata dua sosok ibu dan anak itu sudah tidak ada. Allah belum mempertemukan kami ternyata.
Bukan ku menampikkan perjuangan para ibu dan bapak diluar sana. aku pun begitu bangga dengan papa dan mama serta segala perjuangan mereka. luar biasa, semua orangtua luar biasa. Hanya memperlihatkan sudut lain yang harus diancungi jempol ketika bicara pengasuhan anak oleh orangtua.
Dua orangtua dari anak itu mencerminkan ketelatenan dan kesabaran mereka dengan anak berkebutuhan khususnya. Dan bial ada orangtua diluar sana dengan anak normal mereka, mengeluh, lihatlah foto keluarga ini, agar lebih sadar mereka sedikit lebih beruntung ternyata.
#pengasuhan anak itu menyenangkan, dari pagi ketika anda membuka mata, dan menyadari diri anda sebagai hamba, hingga pejamnya sang mata untuk selamanya. dan landaskanlah semua itu karena cinta kepadaNya#
Minggu, 19 Desember 2010
Dialektika Perjalanan 2
Banyak situasi yang memberikan pelajaran tentang hal yang kini sedang kutekuni. Tidak hanya matang secara konsep namun juga mampu mempraktekkannya dalam kehidupan. Psikologi adalah ilmu yang ilmiah, itu benar. Namun dalam pengaaplikasiannya diperlukan manuver-manuver yang luar biasa. Kenapa ?, karena kita sedang berurusan dengan makhluk kompleks bernama manusia. Paham teoritis tak membuatmu mampu menguasai lapangan, bahkan mungkin gugup dengan keadaan yang dalam waktu singkat mampu berubah begitu saja. tanpa persiapan, maka kamu akan dikalahkan. Menjadi dinamis lebih diperlukan, perkuliahan hanya mengupas sedikit dari ruang lingkup psikologi itu sendiri. Bukankah kita meyakinkan diri bahwa "dimana ada manusia maka di situ psikologi dapat berkerja".
Sebuah pengalaman menarik kualami ketika harus menjaga sebuah barak waktu itu, keadaan yang berubah-ubah berdampak pada minimnya tenaga. Akhirnya, sebuah barak berpenghuni 500 orang diamanahi ke tanganku. Bahasa kerennya waktu itu "penanganan psikologis" Belum ada sebuah legalitas profesi yang mengijinkan penanganan karena pendidikanku belum memadai, tap tetap menjadi penanggungjawab keadaan psikologis penyintas, sendirian.Padahal tadinya hanya mengantikan. Ada beberapa tenaga medis waktu itu tapi yang ku tahu hanya seorang dokter, yang mengajakku berbicara, selainnya aku tidak mengetahui profesi mereka.
Singkatnya,
Sehabis istirahat siang, datanglah seorang ibu memeriksakan kondisi bayinya. Menurut sang Ibu, bayi 6.4 bulan itu tidak berhenti menangis, susah tidur,ketika tidur pun tidak nyenyak, tidak mau minum ASI maupun susu formula tambahannya serta sering berkeringat. Tidak BAB selama 2 hari.
Bayi itu akhirnya diperiksa oleh si dokter. Tidak tau apa diagnosanya,tdak terlalu memperhatikan lebih tepatnya, belum ada kecurigaan sama sekali. Aku melihat bayi itu diperiksa, menangis ketika dilepas ibunya, meronta ketika dipegang dokter. Pemeriksaan selesai, sang bayi pun diberikan ke ibunya beserta resep yang harus ditebus.
Selagi menunggu antrian obat, si ibu duduk disebelahku. Bayinya tidak berhenti menangis, berbagai posisi dicoba ibu tersebut menghentikan tangis, mulai dari memindahkan tangan tumpuan kepala bayinya, berdiri, menimang-nimang, mengayun-ayun. Giliran sang Ibu untuk mengambil obat, karena kelihatannya si Ibu kepayahan mendengar penjelasan dari sang farmasis disela tangis sang bayi, aku menawarkan diri untuk memegang si bayi. Tidak beberapa lama di gendonganku (posisi kepalanya di dekat dagu bersandar pada bahu, tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di bawah pantat) si bayi berhenti menangis, ketika ku duduk pun ia tidak menangis. Si ibu berkata " Si A (nama disamarkan) suka ama mbaknya".
Ketika dikembalikan kepada ibunya dan tanganku menyentuh lengan sang ibu, badan beliau panas. si bayi kembali menangis. Aku menawarkan diri lagi menenangkan si bayi. Bayi itu kugendong lagi, butuh waktulebih lama untuk membuatnya tenang kali ini, si ibu memberi botol susu dan aku memberikan kepada si bayi sambil duduk dan si ibu duduk disebelahku.
Setelah ngobrol ternyata si ibu demam hampir seminggu, susah tidur, tidak enak makan yang berarti bahwa si ibu telah lebih dulu sakit daripada si anak. Namun si Ibu tidak merasakan apa-apa, ketika kemarin berobat pun itu karena disuruh tetangganya. Si Ibu hanya berdua dengan si bayi di barak sedangkan suami sedang dalam perjalanan ke magelang (berkerja diluar kota, tapi aku tidak bertanya dimana). Perawatan dan tanggungjawab dipikul oleh si Ibu.
Berbagai kemungkinan-kemungkinan muncul dikepalaku tentang keadaan ini. Salah satunya ternyata benar (tidak usah disebutkan apa yang dialami sang ibu).Tapi tidak banyak yang bisa dilakukan, walau jadi penanggungjawab secara profesi aku bukan pihak yang berwenang.
Pusing...
Namun jawaban didapat dari si bayi yang akhirnya tidur di gendonganku. Kepalanya dibenamkan ke leherku. Perbedaan yang dapat dilihat antara sang ibu dan aku adalah frekuensi bernafas dan kuantitas keringat. Si bayi merasakan ketidaktenangan sang ibu dan akhirnya mengcopingnya, bagaimana bisa ?. tidak tahu teoritis pastinya seperti apa, aku pun masih mencari. Kemungkinan dari kebutuhan rasa aman yang menjadi kebutuhan sang bayi (dari psi sos erikson), dimana rasa aman ini didapat dari care giver berupa sentuhan dan kelekatan atau attachment. Rasa aman ini akan membuat bayi tetap tenang walau ada kondisi bahaya, berubah, suara keras maupun hal lain yang berubah disekelilingnya.
"ketika sang ibu menderita panik maka mungkin bagi bayinya untuk menderita pula" ini yang saya ingat dari pembicaraan dosen di kelas.
Ketika figure attachnya tidak tenang maka akan berdampak pada bayi, dimana bayi menjadi tidak tenang pula. Proses coping dari figure lekat, baik dari detak jantung, cepat dan lambatnya nafas, sampai pada aktivitas kehidupan seperti pemberian ASI (karena ibunya tidak makan dengan maksimal maka produksi ASI juga tidak maksimal) dianggap sebagai "media transfer" kepanikan.
Ini hipotesis sementara (masih dicari keterangan lain untuk pembuktiannya). Ini mejelaskan kenapa si bayi tenang dan bisa tidur ketika bersamaku dan tidak dengan ibunya. Akhirnya si ibu, ku minta untuk mengatur nafasnya (nafas perut, agar kontrol akan nafas maksimal),, beberapa gerakan relaksasi sederhana (sempat diajarkan ketika pembekalan di fakultas dan barak bersama dinkes)...Lumayan lama bersama sang Ibu. Sampai si Ibu lebih merasa lebih baik, saya mengantarkan si ibu dan bayi ke tempat mereka. Si bayi tetap tertidur pulas bahkan sampai saya mengunjunginya sore hari ketika akan pulang dari barak pengungsian.
Pengalaman berkesan
belajar langsung di tempat, belajar merangkai-rangkai ilmu yang didapat dalam waktu singkat. Ketika berkesempatan untuk ke barak itu lagi, si ibu sudah tidak ada.Masih banyak hal yang ingin diceritakan (daripada numpuk di journal harian), tapi nantilah.
Sebuah pengalaman menarik kualami ketika harus menjaga sebuah barak waktu itu, keadaan yang berubah-ubah berdampak pada minimnya tenaga. Akhirnya, sebuah barak berpenghuni 500 orang diamanahi ke tanganku. Bahasa kerennya waktu itu "penanganan psikologis" Belum ada sebuah legalitas profesi yang mengijinkan penanganan karena pendidikanku belum memadai, tap tetap menjadi penanggungjawab keadaan psikologis penyintas, sendirian.Padahal tadinya hanya mengantikan. Ada beberapa tenaga medis waktu itu tapi yang ku tahu hanya seorang dokter, yang mengajakku berbicara, selainnya aku tidak mengetahui profesi mereka.
Singkatnya,
Sehabis istirahat siang, datanglah seorang ibu memeriksakan kondisi bayinya. Menurut sang Ibu, bayi 6.4 bulan itu tidak berhenti menangis, susah tidur,ketika tidur pun tidak nyenyak, tidak mau minum ASI maupun susu formula tambahannya serta sering berkeringat. Tidak BAB selama 2 hari.
Bayi itu akhirnya diperiksa oleh si dokter. Tidak tau apa diagnosanya,tdak terlalu memperhatikan lebih tepatnya, belum ada kecurigaan sama sekali. Aku melihat bayi itu diperiksa, menangis ketika dilepas ibunya, meronta ketika dipegang dokter. Pemeriksaan selesai, sang bayi pun diberikan ke ibunya beserta resep yang harus ditebus.
Selagi menunggu antrian obat, si ibu duduk disebelahku. Bayinya tidak berhenti menangis, berbagai posisi dicoba ibu tersebut menghentikan tangis, mulai dari memindahkan tangan tumpuan kepala bayinya, berdiri, menimang-nimang, mengayun-ayun. Giliran sang Ibu untuk mengambil obat, karena kelihatannya si Ibu kepayahan mendengar penjelasan dari sang farmasis disela tangis sang bayi, aku menawarkan diri untuk memegang si bayi. Tidak beberapa lama di gendonganku (posisi kepalanya di dekat dagu bersandar pada bahu, tangan kanan di pinggang dan tangan kiri di bawah pantat) si bayi berhenti menangis, ketika ku duduk pun ia tidak menangis. Si ibu berkata " Si A (nama disamarkan) suka ama mbaknya".
Ketika dikembalikan kepada ibunya dan tanganku menyentuh lengan sang ibu, badan beliau panas. si bayi kembali menangis. Aku menawarkan diri lagi menenangkan si bayi. Bayi itu kugendong lagi, butuh waktulebih lama untuk membuatnya tenang kali ini, si ibu memberi botol susu dan aku memberikan kepada si bayi sambil duduk dan si ibu duduk disebelahku.
Setelah ngobrol ternyata si ibu demam hampir seminggu, susah tidur, tidak enak makan yang berarti bahwa si ibu telah lebih dulu sakit daripada si anak. Namun si Ibu tidak merasakan apa-apa, ketika kemarin berobat pun itu karena disuruh tetangganya. Si Ibu hanya berdua dengan si bayi di barak sedangkan suami sedang dalam perjalanan ke magelang (berkerja diluar kota, tapi aku tidak bertanya dimana). Perawatan dan tanggungjawab dipikul oleh si Ibu.
Berbagai kemungkinan-kemungkinan muncul dikepalaku tentang keadaan ini. Salah satunya ternyata benar (tidak usah disebutkan apa yang dialami sang ibu).Tapi tidak banyak yang bisa dilakukan, walau jadi penanggungjawab secara profesi aku bukan pihak yang berwenang.
Pusing...
Namun jawaban didapat dari si bayi yang akhirnya tidur di gendonganku. Kepalanya dibenamkan ke leherku. Perbedaan yang dapat dilihat antara sang ibu dan aku adalah frekuensi bernafas dan kuantitas keringat. Si bayi merasakan ketidaktenangan sang ibu dan akhirnya mengcopingnya, bagaimana bisa ?. tidak tahu teoritis pastinya seperti apa, aku pun masih mencari. Kemungkinan dari kebutuhan rasa aman yang menjadi kebutuhan sang bayi (dari psi sos erikson), dimana rasa aman ini didapat dari care giver berupa sentuhan dan kelekatan atau attachment. Rasa aman ini akan membuat bayi tetap tenang walau ada kondisi bahaya, berubah, suara keras maupun hal lain yang berubah disekelilingnya.
"ketika sang ibu menderita panik maka mungkin bagi bayinya untuk menderita pula" ini yang saya ingat dari pembicaraan dosen di kelas.
Ketika figure attachnya tidak tenang maka akan berdampak pada bayi, dimana bayi menjadi tidak tenang pula. Proses coping dari figure lekat, baik dari detak jantung, cepat dan lambatnya nafas, sampai pada aktivitas kehidupan seperti pemberian ASI (karena ibunya tidak makan dengan maksimal maka produksi ASI juga tidak maksimal) dianggap sebagai "media transfer" kepanikan.
Ini hipotesis sementara (masih dicari keterangan lain untuk pembuktiannya). Ini mejelaskan kenapa si bayi tenang dan bisa tidur ketika bersamaku dan tidak dengan ibunya. Akhirnya si ibu, ku minta untuk mengatur nafasnya (nafas perut, agar kontrol akan nafas maksimal),, beberapa gerakan relaksasi sederhana (sempat diajarkan ketika pembekalan di fakultas dan barak bersama dinkes)...Lumayan lama bersama sang Ibu. Sampai si Ibu lebih merasa lebih baik, saya mengantarkan si ibu dan bayi ke tempat mereka. Si bayi tetap tertidur pulas bahkan sampai saya mengunjunginya sore hari ketika akan pulang dari barak pengungsian.
Pengalaman berkesan
belajar langsung di tempat, belajar merangkai-rangkai ilmu yang didapat dalam waktu singkat. Ketika berkesempatan untuk ke barak itu lagi, si ibu sudah tidak ada.Masih banyak hal yang ingin diceritakan (daripada numpuk di journal harian), tapi nantilah.
Label:
FUN EDUTAIMENT,
psikologi anak,
psikologi klinis
Senin, 06 Desember 2010
Sekeping Rasa untuk Masa Lalu
" Ketika aku jatuh cinta ia, sang pencuri hati itu, akan kuletakkan jauh dari pandangan. Hingga waktu penentuannya datang, apakah ia akan menemani mencapai harapan atau sebaliknya. Kalau ternyata ia bukan yang akan menemani dalam kehidupan, setidaknya ia telah jauh dari jangkauan. Allah padamu kuserahkan"
###
Ia yang tidak kunjung sadar, betapa seseorang mencintainya dalam diam. Menggangumi tingkah lakunya, kepintaran dan pengertiannya, lalu menangis dalam sujud panjang. Betapa hatinya terkotori. Pada gelap dan sunyinya malam itu, ia mengambil keputusan.
"pikirkan lagi" kata sosok berjilbab di depannya
"sudah, Mbak. Insyaallah" jawabnya
"alasannya apa?"
"cukup Allah dan saya yang tau"
"ayolah, Vy. Berbagi, Insyaallah kita cari bersama jalan keluarnya.'
"hati saya mantap, Mbak"
Sosok itu terdiam. Tak mungkin sepertinya menahan adik yang satu ini. Esoknya lembaga itu gempar, seorang Vy menerima amanah di luar kampus dan tidak lagi ada di lembaga itu
###
"Allah, kemana kuadukan perihal cinta. Ketika hati ini terbagi, masihkah do'aku sampai padamu, sholatku terjawabkah, tilawah sumbangku terdengarkah?". Uraian-uraian hati terbuka lebar di dalam diamnya. Betapa hati menjadi tempat yang terkuat dan yang terlemah.
###
Kesibukan menenggelamkannya. Tidak jarang, ia tiba-tiba teringat namun segera dilupakannya. "Bila jatuh cinta itu harus pada saatnya" batinnya dalam hati, lalu ia mengempalkan erat tangannya kemudian kembali melangkah. Di kampus pun, ia berusaha menghindar begitu rupa. Sulit ternyata, namun ia bisa melakukannya.
sebuah percakapan di kala senja
"Vy, sudah saatnya kamu berfikir untuk menikah" ucap sosok berjilbab di depannya. Sosok yang dulu pernah ia ungkapkan kemantapan hatinya untuk keluar dari lembaga, menjauhi orang itu.
Vy diam.
"sudah ada yang dianggap cocok menjadi pendamping ?"
Vy ingat orang itu.
"belum, Mbak" ucapnya sambil menimang si kecil Ali, buah hati pernikahan si mbak setahun lalu
"nanti mbak minta abinya Ali mencarikan'
Vy mengangguk
###
Vy bukannya tidak mau bicara. Namun hatinya lelah, Allah yang akan menentukan segalanya. Jika jodohnya memang dia, bukankah Allah akan mendekatkannya. Do'a yang ia latunkan setiap saat. Bila ia jodohku maka dekatkan ya Allah, bila tidak jauhkan.
"Pernikahan bukan untuk cinta dunia, namun untuk cita-cita yang lebig besar. Pernikahannya ia hibahkan ke jalan ini. Suaminya, anaknya dan cintanya, semua." teriak Vy dalam hati. Airmata berlinang di pipinya.
###
"Allah" Ujarnya malam itu
Sekali lagi ia diuji, ketahanan hati sampai dimanakah?. Sosok yang ia pikirkan memang yang diberikan oleh abi Ali.
"Vy, aku membaca lakumu, Adikku' ucap sang Umi Ali. " dan aku bangga atas pilihan sikapmu"
"Allah yang memberi cinta, namu kitalah yang mengaturnya. Betapa sifat yang membuat kita jatuh cinta Allahlah yang memiliki sifat mahanya. Maha Mengerti, Maha Bijaksana, dan ialah sebenar-benar pelabuhan cinta"
Vy meneteskan air matanya
"ia meminta Vy menunggu 6 bulan sampai S2nya selesai. Insyaallah setelah itu persiapan pernikahan dimulai, Bagaimana ?"
###
"Mbak, aku tak akan menunggu. Carikan Vy calon lain saja" Ujar Vy. Ini hasil sujud malamnya
Kontan, Umi Ali terkejut "kenapa Vy?"
"Vy, sudah menunggu begitu lama dan 6 bulan hanya akan serasa neraka. Vy hanya mentolerir 2 bulan itu pun karena proses pernikahan dan persiapan"
"Vy..."
"Vy mantap, Mbak. 6 bulan cukup untuk membengkokkan niat lurus itu. 6 bulan akan membuat hati itu kembali berbunga tapi belum saatnya. 6 bulan akan ada komunikasi yang entah diridhoi atau tida. 6 bulan Vy akan bermimpi-mimpi indah, terlena, tapi belum pasti Vy akan tetap hidup 6 bulan lagi dan mampu melakukan mimpi-mimpi itu"
Ucapan Vy tidak jelas karena diselingi segukan air mata namun umi Ali tau ia serius
"Vy..." Umi ingin mengajak Vy bicara lebih lanjut.
"Setidaknya Vy ingin menjaga hati, Mbak. Sampai saat itu tiba."
###
Dan disinilah Vy sekarang. Bersanding dengan sang pujaan. Bukan...bukan dengan dia. Namun denganseseorang yang akan Vy puja dan tercatat sebagai amalan. Dia yang pernah mengisi hati Vy itu datang sebagai undangan. Keputusannya terlambat. Pinangannya datang setelah Vy menerima khitbahan. Hanya berselang sehari saja. Dan itu karena ia tidak mendapatkan tiket sehari sebelumnya serta orang yang dititipkan untuk meminang kecelakaan ketika berangkat bekerja.Bukankah Allah yang menjauhkan?.
Vy tersenyum, lelaki disampingnya menoleh. Kemudian ikut tersenyum. Tangannya menyentuh tangan Vy..Ragu. Dengan muka merah, Vy yang mengenggam tangannya terlebih dahulu. Selamat datang pujaanku, selamat pulang suamiku. Seseoran ini akan menemani sujud malamnya, do'anya dalam nyata bukan kata.
#gambaran cinta bagiku. begitu dahsyat namun sederhana
###
Ia yang tidak kunjung sadar, betapa seseorang mencintainya dalam diam. Menggangumi tingkah lakunya, kepintaran dan pengertiannya, lalu menangis dalam sujud panjang. Betapa hatinya terkotori. Pada gelap dan sunyinya malam itu, ia mengambil keputusan.
"pikirkan lagi" kata sosok berjilbab di depannya
"sudah, Mbak. Insyaallah" jawabnya
"alasannya apa?"
"cukup Allah dan saya yang tau"
"ayolah, Vy. Berbagi, Insyaallah kita cari bersama jalan keluarnya.'
"hati saya mantap, Mbak"
Sosok itu terdiam. Tak mungkin sepertinya menahan adik yang satu ini. Esoknya lembaga itu gempar, seorang Vy menerima amanah di luar kampus dan tidak lagi ada di lembaga itu
###
"Allah, kemana kuadukan perihal cinta. Ketika hati ini terbagi, masihkah do'aku sampai padamu, sholatku terjawabkah, tilawah sumbangku terdengarkah?". Uraian-uraian hati terbuka lebar di dalam diamnya. Betapa hati menjadi tempat yang terkuat dan yang terlemah.
###
Kesibukan menenggelamkannya. Tidak jarang, ia tiba-tiba teringat namun segera dilupakannya. "Bila jatuh cinta itu harus pada saatnya" batinnya dalam hati, lalu ia mengempalkan erat tangannya kemudian kembali melangkah. Di kampus pun, ia berusaha menghindar begitu rupa. Sulit ternyata, namun ia bisa melakukannya.
sebuah percakapan di kala senja
"Vy, sudah saatnya kamu berfikir untuk menikah" ucap sosok berjilbab di depannya. Sosok yang dulu pernah ia ungkapkan kemantapan hatinya untuk keluar dari lembaga, menjauhi orang itu.
Vy diam.
"sudah ada yang dianggap cocok menjadi pendamping ?"
Vy ingat orang itu.
"belum, Mbak" ucapnya sambil menimang si kecil Ali, buah hati pernikahan si mbak setahun lalu
"nanti mbak minta abinya Ali mencarikan'
Vy mengangguk
###
Vy bukannya tidak mau bicara. Namun hatinya lelah, Allah yang akan menentukan segalanya. Jika jodohnya memang dia, bukankah Allah akan mendekatkannya. Do'a yang ia latunkan setiap saat. Bila ia jodohku maka dekatkan ya Allah, bila tidak jauhkan.
"Pernikahan bukan untuk cinta dunia, namun untuk cita-cita yang lebig besar. Pernikahannya ia hibahkan ke jalan ini. Suaminya, anaknya dan cintanya, semua." teriak Vy dalam hati. Airmata berlinang di pipinya.
###
"Allah" Ujarnya malam itu
Sekali lagi ia diuji, ketahanan hati sampai dimanakah?. Sosok yang ia pikirkan memang yang diberikan oleh abi Ali.
"Vy, aku membaca lakumu, Adikku' ucap sang Umi Ali. " dan aku bangga atas pilihan sikapmu"
"Allah yang memberi cinta, namu kitalah yang mengaturnya. Betapa sifat yang membuat kita jatuh cinta Allahlah yang memiliki sifat mahanya. Maha Mengerti, Maha Bijaksana, dan ialah sebenar-benar pelabuhan cinta"
Vy meneteskan air matanya
"ia meminta Vy menunggu 6 bulan sampai S2nya selesai. Insyaallah setelah itu persiapan pernikahan dimulai, Bagaimana ?"
###
"Mbak, aku tak akan menunggu. Carikan Vy calon lain saja" Ujar Vy. Ini hasil sujud malamnya
Kontan, Umi Ali terkejut "kenapa Vy?"
"Vy, sudah menunggu begitu lama dan 6 bulan hanya akan serasa neraka. Vy hanya mentolerir 2 bulan itu pun karena proses pernikahan dan persiapan"
"Vy..."
"Vy mantap, Mbak. 6 bulan cukup untuk membengkokkan niat lurus itu. 6 bulan akan membuat hati itu kembali berbunga tapi belum saatnya. 6 bulan akan ada komunikasi yang entah diridhoi atau tida. 6 bulan Vy akan bermimpi-mimpi indah, terlena, tapi belum pasti Vy akan tetap hidup 6 bulan lagi dan mampu melakukan mimpi-mimpi itu"
Ucapan Vy tidak jelas karena diselingi segukan air mata namun umi Ali tau ia serius
"Vy..." Umi ingin mengajak Vy bicara lebih lanjut.
"Setidaknya Vy ingin menjaga hati, Mbak. Sampai saat itu tiba."
###
Dan disinilah Vy sekarang. Bersanding dengan sang pujaan. Bukan...bukan dengan dia. Namun denganseseorang yang akan Vy puja dan tercatat sebagai amalan. Dia yang pernah mengisi hati Vy itu datang sebagai undangan. Keputusannya terlambat. Pinangannya datang setelah Vy menerima khitbahan. Hanya berselang sehari saja. Dan itu karena ia tidak mendapatkan tiket sehari sebelumnya serta orang yang dititipkan untuk meminang kecelakaan ketika berangkat bekerja.Bukankah Allah yang menjauhkan?.
Vy tersenyum, lelaki disampingnya menoleh. Kemudian ikut tersenyum. Tangannya menyentuh tangan Vy..Ragu. Dengan muka merah, Vy yang mengenggam tangannya terlebih dahulu. Selamat datang pujaanku, selamat pulang suamiku. Seseoran ini akan menemani sujud malamnya, do'anya dalam nyata bukan kata.
#gambaran cinta bagiku. begitu dahsyat namun sederhana
Minggu, 05 Desember 2010
Dan Ini Rasaku

Seperti mengemban kesalahan orang lain dalam kehidupan
aku berteriak lirihku pada Pemilik Alam
selamatkan aku dari kehampaan
Ia menjawab, dalam luruh tangis keputusasaan
berupa rengkuhan hangat alam dan kekuatan tangan
meghapus kedukaan.
*bahkan ketika ku memberikan seluruh kehidupanku padamu, bisakah kau menjaganya melebihiNya. dalam hatiku bertanya.
Rabu, 01 Desember 2010
Sang Petualang
“apa yang ia pikirkan” batinku
Lelaki yang ku nikahi 3 tahun lalu baru saja pulang, tak ada senyuman melihat padaku pun tidak. Ia membuka pintu, masuk ke rumah, melepas sepatu, meletakkan barang bawaannya lalu berjalan ke kamar mandi. Tak lama terdengar suara shower. Ia mandi dan aku terus membatin di dalam hati.
###
Pernikahan kami terjadi karena orangtua. Bukan.., bukan seperti kisah-kisah sinetron, pernikahan bisnis demi harta atau hutang keluarga. Kami bertetangga, diumur yang cukup tapi masih belum menikah. Maka orangtualah yang turun tangan dan kami, yang begitu berbeda, saat itu berkata “iya”.
Mungkin karena desakan, bingung atau entah apa. Aku menerima sang petualang itu dalam hidupku. Berusaha mencintainya?, bukan perkara gampang. Kepulangannnya ke rumah hanya beberapa kali saja dan berapa lamanya, bisa dihitung dengan sebelah tangan. Seigatku 6 hari itu yang paling lama. Kabar yang kuterima hanya,
“aku sedang di gunung”
dan ketika kubertanya “gunung apa ?”, maka dering pertanda pesan darinya tak pernah terdengar . Akhirnya aku pun jarang membalas,
“aku sedang di telaga”
“lagi di danau”
“masuk hutan”
hanya semacam laporan dan tak perlu check lebih mendalam.
###
Ia selesai mandi, memakai pakaiannya dikamar lalu berjalan ke meja makan. Ia makan apa yang ada di bawah tudung saji. Tidak ada yang istimewa karena aku tak pernah tahu kapan ia pulang. Sang petualang makan hanya dengan telor dadar, sore itu. Aku duduk disebelahnya sambil sesekali menuangkan air ke gelasnya yang kosong.
###
6 bulan setelah pernikahan, ia mengalami kecelakaan. Beberapa retak ada di tulang kering dan paha kaki sebelah kirinya serta kaki sebelah kanannya patah, hingga sebuah operasi pemasangan penyangga di kakinya harus dilakukan. Perlu sekitar 1 tahun ia untuk pulih dan selama pemulihan , ia memilih di rumah orangtuanya. Takut menganggu kuliah S2-ku katanya dan entah mengapa aku bersyukur atas pilihannya.
Setelah pulih ia kembali ke organisasi lingkungan liar International itu, kembali ke pekerjaannya sekaligus hobinya. Tanpa bicara padaku tentu saja. Dan saat itulah aku merasa rindu.
“kutitipkan rinduku padamu, wahai angin. Dan sampaikan padanya yang berada diujung samudra betapa hati ini nelangsa”
sebuah pesan kukirimkan pada nomor yang mulai ku hafal di luar kepala. Dan tidak ada jawaban.
###
Ia makan dengan tenang. Tiada keluhan terucap dari bibirnya. Seandainya aku tahu ia pulang hari ini, tentu aku akan membuat sesuatu yang lebih istimewa. Makanan kesukaannya mungkin, ikan bakar manis. Hal sekecil ini pun ku ketahui dari mertuaku. Suami petualangku tidak pernah meributkan apapun, ia diam, aku pun diam.
###
6 bulan lalu
Aku wisuda profesi. Tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Setelah ibu-bapak mertuaku pulang, ibuku tak bida hadir karena adikku yang menempuh ujian akhir SMA minta ditemani, aku sendirian dan perasaan rindu padanya semakin kuat, tiba-tiba ingin bercerita banyak hal padanya walau ku tahu akan dijawab dengan diam. Esok aku pulang ke rumah, merayakan kelulusan bersama keluarga yang diadakan ibu dan mertua. Aku bersiap-siap dan kemudian tidur.
Menjelang siang aku sampai di kampung halaman. Setelah mencium dan memeluk ibu, aku masuk ke kamarku. Sebuah bunga dan tas yang begitu aku kenal. Seseorang melangkah masuk, suamiku sudah ada disitu tersenyum. “selamat” katanya.
Malam itu adalah malam ketika kami bicara banyak hal. Terutama berbagi cerita dan nostalgia masa kecil, saat kami bermusuhan ala kadarnya khas anak kecil. Serta sebuah pengakuan cinta olehku untuknya. Yang membuat semua percakapa itu berakhir, ia serta merta membelakangiku dan aku menyesal atas ucapanku. Esok paginya, ia pergi, pamit pada semua orang, tapi tidak padaku.
###
Ia selesai makan. Aku membawa piring kotornya ke dapur lalu membuatkan kopi pahit kesukaannya. Aku mendengar langkah kaki dan pintu dibuka lalu ditutup kembali. Adzan, ia ke masjid dekat rumah. Aku meletakkan kopi pahit panas itu di ruang keluarga, di kursi dimana ia selalu duduk bila di rumah, menonton TV, membaca buku maupun menulis jurnal perjalanannya di laptop. Selesai sholat dan keluar kamar, ia telah ada disana tidak melakukan apa-apa. Kopinya sudah tinggal separuh. Aku duduk di sofa panjang, disamping sofa tempat ia biasa duduk. Diam, sepi dan aku benci ini. Peristiwa 6 bulan lalu kembali mendesak diingatanku.
Ia tiba-tiba pindah ke sebelahku
“aku ke telaga” ucapnya
Aku diam
“telaga yang sama dengan telaga di awal pernikahan kita”
Aku masih diam
“aku juga ke pantai yang ku beritahu padamu sesaat setelah kecelakaanku”
Aku ingat itu. Ia tidak bisa lagi naik gunung, hingga berpindah divisi setelah pulih.
“terakhir sebelum pulang aku ke hutan yang sama, tempat ku berada saaat mendengar kelulusanmu”
Kemudian kembali diam.
“apa yang kau temukan di telaga ?” tanyaku
“dalam ketenangannya kutemukan kedalaman hati” ujarnya
“apa yang kau dapatkan dari deburan ombak pantai ?”
“bahwa suatu saaat semua akan kembali ke labuhan”
“lalu ketika berada di hutan ?”
“ku temukan bahwa dalam kesendirian pun tiada yang lepas dari perhatian Sang Pencipta dan kutemukan kau menghiasi setiap langkah. Hingga ku tahu dimana hatiku berlabuh dalam cintaNYa, tahu bagian mana di muka bumi, yang paling kuanggap sebagai rumah”
Aku diam. Ini pernyataan cinta sang petualang. Hal yang menyesakkan dada itu hilang, aku memandangnya lama. Aku menyerah kalah padanya. Pada cinta yang kutakutkan hanya ada padaku saja, prasangka atas diam dan lakunya. Aku tidak menyadarinya ternyata. Kalah atas cintaku yang terlambat ada dan mataku yang tidak melihat bahwa aku diperlakukan lebih istimewa. Walau sekedar pemberitahuan dimana ia berada,tapi diriku selalu ada dihatinya. Bukankah ibu mertua selalu takjub ketika ku tahu dimana ia berada, padahal sebelumnya ibu mertua tak pernah mendapat kabar darinya. Mataku berkaca-kaca
“aku mencintaimu sejak lama, namun ku tak tahu cara menyatakannya. Kepergian terakhirku untuk mensyukuri betapa akhirnya aku dicinta oleh bidadari dunia”
Kami berpandangan lama.
#tantangan atas sebuah cerita cinta yang diluar dari biasanya.
Lelaki yang ku nikahi 3 tahun lalu baru saja pulang, tak ada senyuman melihat padaku pun tidak. Ia membuka pintu, masuk ke rumah, melepas sepatu, meletakkan barang bawaannya lalu berjalan ke kamar mandi. Tak lama terdengar suara shower. Ia mandi dan aku terus membatin di dalam hati.
###
Pernikahan kami terjadi karena orangtua. Bukan.., bukan seperti kisah-kisah sinetron, pernikahan bisnis demi harta atau hutang keluarga. Kami bertetangga, diumur yang cukup tapi masih belum menikah. Maka orangtualah yang turun tangan dan kami, yang begitu berbeda, saat itu berkata “iya”.
Mungkin karena desakan, bingung atau entah apa. Aku menerima sang petualang itu dalam hidupku. Berusaha mencintainya?, bukan perkara gampang. Kepulangannnya ke rumah hanya beberapa kali saja dan berapa lamanya, bisa dihitung dengan sebelah tangan. Seigatku 6 hari itu yang paling lama. Kabar yang kuterima hanya,
“aku sedang di gunung”
dan ketika kubertanya “gunung apa ?”, maka dering pertanda pesan darinya tak pernah terdengar . Akhirnya aku pun jarang membalas,
“aku sedang di telaga”
“lagi di danau”
“masuk hutan”
hanya semacam laporan dan tak perlu check lebih mendalam.
###
Ia selesai mandi, memakai pakaiannya dikamar lalu berjalan ke meja makan. Ia makan apa yang ada di bawah tudung saji. Tidak ada yang istimewa karena aku tak pernah tahu kapan ia pulang. Sang petualang makan hanya dengan telor dadar, sore itu. Aku duduk disebelahnya sambil sesekali menuangkan air ke gelasnya yang kosong.
###
6 bulan setelah pernikahan, ia mengalami kecelakaan. Beberapa retak ada di tulang kering dan paha kaki sebelah kirinya serta kaki sebelah kanannya patah, hingga sebuah operasi pemasangan penyangga di kakinya harus dilakukan. Perlu sekitar 1 tahun ia untuk pulih dan selama pemulihan , ia memilih di rumah orangtuanya. Takut menganggu kuliah S2-ku katanya dan entah mengapa aku bersyukur atas pilihannya.
Setelah pulih ia kembali ke organisasi lingkungan liar International itu, kembali ke pekerjaannya sekaligus hobinya. Tanpa bicara padaku tentu saja. Dan saat itulah aku merasa rindu.
“kutitipkan rinduku padamu, wahai angin. Dan sampaikan padanya yang berada diujung samudra betapa hati ini nelangsa”
sebuah pesan kukirimkan pada nomor yang mulai ku hafal di luar kepala. Dan tidak ada jawaban.
###
Ia makan dengan tenang. Tiada keluhan terucap dari bibirnya. Seandainya aku tahu ia pulang hari ini, tentu aku akan membuat sesuatu yang lebih istimewa. Makanan kesukaannya mungkin, ikan bakar manis. Hal sekecil ini pun ku ketahui dari mertuaku. Suami petualangku tidak pernah meributkan apapun, ia diam, aku pun diam.
###
6 bulan lalu
Aku wisuda profesi. Tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Setelah ibu-bapak mertuaku pulang, ibuku tak bida hadir karena adikku yang menempuh ujian akhir SMA minta ditemani, aku sendirian dan perasaan rindu padanya semakin kuat, tiba-tiba ingin bercerita banyak hal padanya walau ku tahu akan dijawab dengan diam. Esok aku pulang ke rumah, merayakan kelulusan bersama keluarga yang diadakan ibu dan mertua. Aku bersiap-siap dan kemudian tidur.
Menjelang siang aku sampai di kampung halaman. Setelah mencium dan memeluk ibu, aku masuk ke kamarku. Sebuah bunga dan tas yang begitu aku kenal. Seseorang melangkah masuk, suamiku sudah ada disitu tersenyum. “selamat” katanya.
Malam itu adalah malam ketika kami bicara banyak hal. Terutama berbagi cerita dan nostalgia masa kecil, saat kami bermusuhan ala kadarnya khas anak kecil. Serta sebuah pengakuan cinta olehku untuknya. Yang membuat semua percakapa itu berakhir, ia serta merta membelakangiku dan aku menyesal atas ucapanku. Esok paginya, ia pergi, pamit pada semua orang, tapi tidak padaku.
###
Ia selesai makan. Aku membawa piring kotornya ke dapur lalu membuatkan kopi pahit kesukaannya. Aku mendengar langkah kaki dan pintu dibuka lalu ditutup kembali. Adzan, ia ke masjid dekat rumah. Aku meletakkan kopi pahit panas itu di ruang keluarga, di kursi dimana ia selalu duduk bila di rumah, menonton TV, membaca buku maupun menulis jurnal perjalanannya di laptop. Selesai sholat dan keluar kamar, ia telah ada disana tidak melakukan apa-apa. Kopinya sudah tinggal separuh. Aku duduk di sofa panjang, disamping sofa tempat ia biasa duduk. Diam, sepi dan aku benci ini. Peristiwa 6 bulan lalu kembali mendesak diingatanku.
Ia tiba-tiba pindah ke sebelahku
“aku ke telaga” ucapnya
Aku diam
“telaga yang sama dengan telaga di awal pernikahan kita”
Aku masih diam
“aku juga ke pantai yang ku beritahu padamu sesaat setelah kecelakaanku”
Aku ingat itu. Ia tidak bisa lagi naik gunung, hingga berpindah divisi setelah pulih.
“terakhir sebelum pulang aku ke hutan yang sama, tempat ku berada saaat mendengar kelulusanmu”
Kemudian kembali diam.
“apa yang kau temukan di telaga ?” tanyaku
“dalam ketenangannya kutemukan kedalaman hati” ujarnya
“apa yang kau dapatkan dari deburan ombak pantai ?”
“bahwa suatu saaat semua akan kembali ke labuhan”
“lalu ketika berada di hutan ?”
“ku temukan bahwa dalam kesendirian pun tiada yang lepas dari perhatian Sang Pencipta dan kutemukan kau menghiasi setiap langkah. Hingga ku tahu dimana hatiku berlabuh dalam cintaNYa, tahu bagian mana di muka bumi, yang paling kuanggap sebagai rumah”
Aku diam. Ini pernyataan cinta sang petualang. Hal yang menyesakkan dada itu hilang, aku memandangnya lama. Aku menyerah kalah padanya. Pada cinta yang kutakutkan hanya ada padaku saja, prasangka atas diam dan lakunya. Aku tidak menyadarinya ternyata. Kalah atas cintaku yang terlambat ada dan mataku yang tidak melihat bahwa aku diperlakukan lebih istimewa. Walau sekedar pemberitahuan dimana ia berada,tapi diriku selalu ada dihatinya. Bukankah ibu mertua selalu takjub ketika ku tahu dimana ia berada, padahal sebelumnya ibu mertua tak pernah mendapat kabar darinya. Mataku berkaca-kaca
“aku mencintaimu sejak lama, namun ku tak tahu cara menyatakannya. Kepergian terakhirku untuk mensyukuri betapa akhirnya aku dicinta oleh bidadari dunia”
Kami berpandangan lama.
#tantangan atas sebuah cerita cinta yang diluar dari biasanya.
Langganan:
Postingan (Atom)