Kamis, 28 Oktober 2010

Sebuah pendekatan disclosure : Anak rantau Minangkabau Mengenali diri dan budaya dari tanah rantau III

Apa yang berbeda ? (Remaja Minangkabau Vs Remaja )


Sebenarnya kematangan emosi yang dicapai oleh remaja Minangkabau ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Peer group yang kuat, kepercayaan dari orangtua dan kemapanan pribadi menjadi kunci dari kebehasilan anak rantau mengaktualisasikan dirinya.


Merantau hanya sebagai proses mempercepat tercapainya kemandirian. Yang mana juga memiliki efek samping berupa mudahnya terjatuh atau gagal dan bila tidak sanggup bangkit maka akan terjerumus lebih dalam pada perilaku menyimpang, karena tetap saja kontrolling terkuat ada pada orangtua.

Kemapanan pribadi diperoleh dari kebiasan orang Minang untuk menyampaikan pendapat kepada siapa saja sehingga ia pun mendapatkan pandangan dari siapapun. Orangtua saat ini telah melepas anaknya mandiri walau masih di daerah asal setelah tamat sekolah dasar. Anak diperbolehkan memilih sekolah sendiri yang dia inginkan, kegiatan ekstrakulikuler setelah didiskusikan dengan orangtua. Kegiatan penyeimbang berupa pendidikan agama tetap dilanjutkan hingga sekolah agama sore itu selesai.

Kepercayaan orangtua memberikan arti penting setelahnya. Melepas merantau berarti meyediakan ruang gerak yang sangat luas pada anak hal ini berbanding lurus dengan besarnya kepercayaan yang diberikan orangtua. Saat merantau anak akan dipandang sebagai seorang individu bukan lagi sebagai seorang ”anak”, dimana individu ini diyakini memiliki kekuatan untuk bertahan. Namun orangtua akan tetap bersedia menerima keluhan atas rasa kasih sayang kepada anak. Kepercayaan ini akan sangat membantu pengambilan keputusan pada remaja dan penyesuaian dirinya. Menurut penelitian pengaruhnya mencapai angka 51,1 persen (Yuniarti,2009)

Perasaan senasib dan sepenangungan yang dirasakan peer group. Bisa didapatkan tanpa perlu merantau. Kemampuan individu yang terasai dibidang sosial, mampu mengkomunikasikan pikiran dan perasaan akan membantu membentuk peer group yang solid. Tidak ada perbedaan mendasar antara remaja minangkabau dan remaja lainnya dalam hal kematangan. Perbedaan hanya terletak pada cepat atau lambatnya tercapinya kematangan tersebut dimana merantau mempercepat proses kematangan itu terjadi karena dinamika psikologis selama merantau. Diskusi lebih lanjut akan lebih baik ditekankan kepada gaya spesifik orangtua minangkabau dalam mempersiapkan atau mendidik anak-anak mereka karena dari bahan yang dikumpulkan kemungkinan besar keberhasilan remaja Minangkabau mampu meregulasi emosi dan matang lebih cepat adalah karena individu-individunya. Sehingga pendidikan yang dilakukan di negeri asal atau lebih spesifik pada orangtua mampu mengungkap hal tersebut.




















DAFTAR PUSTAKA

Agies.N.A. 2010. Remaja dan Masyarakat. http://agies.ngeblogs.com/2010/03/21/remaja-dan-masyarakat/. Diunduh pada tanggal 1 Mei 2010

Astuty.E.M. 2009. Hubungan Antara Kematangan Emosi dan Jenis Kelmain dengan Agresivitas pada Komunitas SLANKers. Skripsi. UMS

Diradjo.I. S.2009. Tambo : Alam Minangkabau. Bukittinggi : Kristal Multimedia.

Episentrum. 2009. Remaja. http:// Remaja _ Episentrum, Layanan Psikologi.htm.

Herbert,M. 2001. Clinical Child and Adolescents Psychology. UK : Padstraw

Hughes,L. 2001. Paving Pathway. USA : Wadsworth

Hurlock, E.B. 1993. Psikologi Perkembangan.Jakarta :Erlangga

Ilyas. A. 1999. Nan Empat. Palembang : Osaka

Kampiun. 2008. Pengertian Kematangan Emosi. http:// remaja/Pengertian%20kematangan%20emosi%20%C2%AB%20Kampiun%20Psikologi.htm.

Kato.T.2005. Adat Minangkabau dan Merantau. Jakarta : Balai Pustaka

Muarif. 2009. Rahasia Sukses Orang Minang di Perantauan. Yogyakarta: Pinus

Muthoin. 2010.Pendidikan Remaja. http://muthoin22.student.umm.ac.id/2010/02/05/pendidikan-remaja/. Diunduh pada tanggal 1 Mei 2010.

Noviasari. D. 2002.Perbedaan Kematangan Emosional Remaja diinjau dari Status Urutan Kelahiran dalm Keluarga. http:// gdl.php.htm

Santrock. 2002. Life-span Development.Jakarta Erlangga

Sham.F,M.2005. Tekanan Emosi Remaja Islam. Ukmislamya no 271.1.

Yuniarti, Y.N.2009. Hubungan Persepsi Efektifitas Komunikasi Interpersonal Orangtua dan Kematangan Penyesuaian Diri pada Remaja Siswa SMAN 1 Polanharjo.Skripsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar